Mas Jamal Menerima: 1. Pendamping Produk Halal 2. Pembuat Legalitas Usaha 3. Biro Travel Umroh & Haji 4. Jual Beli Sayuran 5. Owner Peci Sufi Jamal Berkah 6. Pimpinan PT. Taman Wareg
Sabtu, 13 April 2024
Selasa, 19 Maret 2024
EPISTEMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
EPISTEMOLOGI
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Bekang Masalah
Kebijaksanaan adalah semacam pengetahuan. Filsafat pada umumnya menggeluti
bagaimana kita tahu benda-benda dan apa yang dapat kita ketahui. Pengetahuan
filosofis bukanlah pengetahuan ilmiah. Faktanya, banyak filosof modern
mengklaim bahwa filsafat merupakan suatru keterampilan, suatu cara berfikir
mengenai dunia. Filsafat bukanlah apa yang anda ketahui, tetapi bagaimana anda
berfikir. Dalam kajian filsafat tentang pengetahuan, terdapat salah satu
persoalan penting yaitu tentang epistemologi.
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme yang
memiliki arti pengetahuan atau knowledge dan logos yang berarti teori.
Istilah-istilah lain yang setara dengan epistemologi adalah Kriteriologi yaitu
cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atau tidaknya pengetahuan. Objek
material epistemologii adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat
pengetahuan
Epistemologi ialah pengetahuan tentang suatu upaya untuk
menempatkan sesuatu di dalam kedudukan setepatnya atau upaya-upaya intelektual
memutuskan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar serta mendudukkan
pengetahuan di dalam tempat yang benar
Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya
dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus
diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh
pengetahuan dan cara menyampaikannya seperti apa? Semua itu adalah
epistemologinya pendidikan.
Epistomologi filsafat pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang
mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh filsafat pendidikan Islam dengan
cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam semesta
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
2.
Bagaimana
Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
3.
Bagaimana
Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
C. Tujuan
1.
Untuk
memahami pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.
2.
Untuk
memahami Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.
3.
Untuk
memahami Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Epistemologi
Filsafat Pendidikan Islam
Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani;
episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedang logos berarti teori,
uraian atau juga berarti pengetahuan. Jadi, epistemologi adalah pengetahuan
tentang pengetahuan
Epistemologi merupakan tahapan berikutnya setelah pembahasan
ontologi dalam filsafat. “Istilah epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F.
Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yaitu
epistemologi dan ontologi (metafisika umum). Kalau dalam metafisika
pertanyaannya adalah apa yang ada itu? Maka pertanyaan dasar dalam epistemologi
adalah apa yang dapat saya ketahui?”
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos.
Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran,
kata, atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori
pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam
bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge. Dengan kata lain, epistemologi
adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan
ukuran kebenarannya. Isu-isu yang akan muncul berkaitan dengan masalah
epistemologi adalah bagaimana pengetahuan itu bisa diperoleh? Jika keberadaan
itu mempunyai gradasi (tingkatan), mulai dari yang metafisik hingga fisik maka
dengan menggunakan apakah kita bisa mengetahuinya? Apakah dengan menggunakan
indera sebagaimana kaum empiris, akal sebagaimana kaum rasionalis atau bahkan
dengan menggunakan intuisi sebagaimana urafa’ (para sufi)? Oleh sebab itu yang
perlu dibahas berkaitan dengan masalah ini adalah tentang teori pengetahuan dan
metode ilmiah serta tema-tema yang berkaitan dengan masalah epistemologi.
Berbicara tentang asal-usul pengetahuan maka ilmu pengetahuan ada
yang berasal dari manusia dan dari luar manusia. Pengetahuan yang berasal dari
manusia meliputi pengetahuan indera, ilmu (akal) dan filsafat. Sedangkan
pengetahuan yang berasal dari luar manusia (berasal dari Tuhan) adalah wahyu.
Pembahasan epistemologi meliputi sumber-sumber atau teori pengetahuan,
kebenaran pengetahuan, batasan dan kemungkinan pengetahuan, serta klasifikasi
ilmu pengetahuan
Hal ini berkaitan dengan apa manfaat dari ilmu itu sendiri. Firman
Allah dalam surah Al-Mujadalah: ayat 11 sebagai berikut :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا
يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. AL-Mujadalah:11).
Maka dari dapat di simpulkan bahwa Epistomologi filsafat pendidikan
Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh
filsafat pendidikan Islam dengan cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam
semesta
B.
Ruang Lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam
Epistemologi berbicara tentang:
1.
Sumber-sumber
Pengetahuan
Salah
satu pokok pembahasan epistemologi adalah mengenai sumber-sumber pengetahuan.
Dengan fakultas apa manusia mencapai pengetahuan? Bagaimanakah nilai
pengetahuan yang diperoleh manusia? Sampai batasan mana manusia memeroleh
pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan ini terkait erat dengan sumbersumber
pengetahuan. Apa saja sumber-sumber pengetahuan?
Murtadha
Muththahari mengatakan bahwa sumber pengetahuan tidak hanya rasio dan hati,
melainkan alam dan sejarah. Sedangkan M. Taqi Mishbah Yazdi lebih menekankan
fakultas indriawi dan akal sebagai sumber pengetahuan. Adapun fakultas hati,
dalam mencapai pengetahuan, merupakan ranah ‘irfan bukan filsafat. Agaknya
karena alasan inilah bahwa fakultas hati (qalb, fu’ad) merupakan pembahasan
‘irfan bukan filsafat, kita bisa memahami pandangan Yazdi yang tidak begitu
menekankan daya hati dalam epistemologi yang merupakan cabang filsafat. Ada
juga yang menganggap bahwa sumber pengetahuan yang hakiki (primer) adalah wahyu
sedangkan daya-daya lain lebih sebagai sumber sekunder.
2.
Kebenaran
Pengetahuan
Sebelum
membahas tentang teori kebenaran terlebih dahulu penting kiranya untuk
mendefinisikan apa arti kebenaran itu sendiri. Kebenaran menjadi isu sentral
dalam ilmu pengetahuan karena tujuan dari ilmu pengetahuan adalah untuk mencari
kebenaran. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Purwadaminta
ditemukan arti kebenaran, yakni keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok
dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya).
Menurut
William James yang dikutip oleh Titus dkk (1984: 344), kebenaran (truth) adalah
yang menjadikan berhasil cara kita berpikir dan kebenaran adalah yang
menjadikan kita berhasil cara kita bertindak. Sedangkan menurut Louis Kattsoff
‘kebenaran’ menunjukkan bahwa makna sebuah ‘pernyataan’ artinya, proposisinya
sungguh-sungguh merupakan halnya. Bila proposisinya bukan merupakan halnya,
maka kita mengatakan bahwa proposisi itu “sesat”.
Dalam
epistemologi terdapat 4 (empat) jenis kebenaran, yakni (1) kebenaran religius,
(2) kebenaran filosopis, (3) kebenaran estetis, dan (4) kebenaran ilmiah.
Adapun
masing-masing kebenaran tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.
Kebenaran
religius adalah kebenaran yang memenuhi atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah
agama atau keyakinan tertentu disebut juga kebenaran mutlak yang tidak dapat
dibantah lagi. Bentuk pemahamannya adalah dogmatis. Hal yang dimaksud agama adalah
ketentuan-ketentuan atau ajaran yang diturunkan melalui wahyu, bukan hasil
pemikiran atau perenungan manusia.
b.
Kebenaran
filosofis adalah kebenaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi para filsuf
yang disebut hakikat (the nature), meskipun bersifat subyek dan relative namun
mendalam, karena melalui penghayatan eksistensial,
bukan hanya
pengalaman dan pemikiran intelektual semata. Kebenaran filosofis ini berguna
untuk menyadarkan kita pada relatifnya pengetahuan yang kita miliki karena
pengetahuan itu terus berubah atau berkembang.
c.
Kebenaran
estetis adalah kebenaran yang berdasarkan penilaian indah dan buruk, serta cita
rasa estetis. Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas
yang menimbulkan rasa senang, tenang dan nyaman. Misalnya : bentuk dua dimensi
yang seimbang adalah dengan skala 2 x 3. Hukum estetika ini rupanya digunakan
untuk ukuran bendera sedunia.
d.
Kebenaran
ilmiah adalah terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanya
teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti, kebenaran rasional yang ditunjang
hasil lapangan yang disebut bukti empiris. Kebenaran teoritis adalah kebenaran
yang berdasarkan rasio atau rasional berdasarkan teori-teori yang menunjangnya.
Pengertian bukti disini adalah bukti empiris, yaitu hasil pengukuran obyektif
dilapangan. Sifat obyektif berlaku umum, dan dapat diulang melelui
eksperimentasi.
3.
Batasan
Pengetahuan
Berbicara
tentang masalah ontologi memang sangat luas sekali cakupannya. Ia tidak hanya
berbicara soal keberadaan yang sifatnya materi tetapi juga immateri. Kalau
wujud yang materi bisa diketahui dengan menggunakan pendekatan empiris maka wujud
immateri hanya kita yakini keberadaannya begitu saja. Paling kita percaya
karena wujud yang immateri itu seperti keberadaan Tuhan, surga, neraka dan
lainnya diterangkan dalam kitab suci (wahyu) bagi kalangan yang beragama. Bagi
para penganut paham ateisme tentu saja mereka tidak memercayai hal-hal yang
bersifat immateri tersebut.
Lantas
apakah batas yang merupakan ruang lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu
berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah
yang menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari
pengetahuan-pengetahuan yang lain? Jawaban dari semua pertanyaan itu sangat
sederhana. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di
batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka?
Jawabnya adalah tidak sebab surga dan neraka berada di luar jangkauan
pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya
manusia? Jawabnya juga adalah tidak sebab kejadian itu berada di luar jangkauan
pengalaman kita.
Baik
hal yang terjadi sebelum hidup maupun yang terjadi setelah kematian kita, semua
itu berada di luar penjelajahan ilmu. Dengan demikian yang dimaksud dengan ilmu
di sini adalah pengetahuan yang hanya bisa dijangkau oleh akal manusia dan
bahkan yang bisa diuji kebenarannya secara empiris. Sebuah ilmu harus memenuhi
standar metodologis dan bisa diuji dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
Jika
suatu ilmu itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia bagaimana kita bisa
menguji kebenarannya dengan standar
metodologis dan metode-metode ilmiah. Pembatasan ruang lingkup ilmu yang
seperti ini nampaknya sangat sempit sekali. Memang hal ini tidak bisa
dilepaskan dari tradisi keilmuan yang berkembang di Barat. Ilmu yang dalam
bahasa Barat disebut dengan science merupakan suatu pengetahuan yang tidak
diragukan lagi kebenarannya karena ia memenuhi standarstandar ilmiah. Ia bisa
dibuktikan secara empiris dan bisa di eksperimentasi. Sehingga suatu ilmu yang
tidak memenuhi kualifikasi itu bukanlah merupakan ilmu. Oleh sebab itu sesuatu
hal yang sifatnya immateri bukan termasuk objek kajian ilmu dan bahkan ia
dianggap tidak ada. Seperti itulah asumsi para saintis tentang ilmu terutama
yang berkembang di dunia Barat.
Dalam
proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena
ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam
kurikulum pendidikan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh
anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah
lakunya.
Metode
berasal dari bahasa Yunani methodas, berarti cara atau jalan
Dari
istilah tersebut yang paling popular dan akrab dalam dunia pendidikan Islam
adalah tarikat, yang antara lain berarti jalan yang harus ditempuh
Metode
pendidikan sebagaimana lazimnya komponen ilmu pendidikan yang lain mengalami
perkembangan mengikuti kemajuan zaman. Namun demikian pengembangan metode harus
berbarengan dengan bagian kain dalam pendidikan, misalnya: tujuan pendidikan
yang akan dicapai, kondisi anak didik, kemampuan pendidik dan materi yang akan
diajarkan.
Secara
metodologis, pendidikan Islam dituntut mampu mensosialisasikan dan
menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang suci dan transedental baik
terhadap individu peserta didik maupun kepada masyarakat luas. Untuk memenuhi
desakan kebutuhan variasi metodologi pendidikan Islam dapat merujuk pada sumber
ajaran Islam yaitu Alquran dan sunnah sebagai dasar yang asasi dalam ajaran
Islam.
Gaya
bahasa Alquran dan ungkapan yang terdapat dalam ayatayat Alquran
mengindikasikan bahwa Alquran mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan
dengan corak dan ragam yang berbeda sesuai waktu dan tempat.19 Keragaman metode
pendidikan dalam Alquran dimaksudkan untuk memberikan solusi alternatif terbaik
bila ditemukan kendala dalam pendidikan Islam khususnya aspek metodologis.
Menurut
M. Arifin, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan berproses secara
efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar, menuju tujuan pendidikan
1.
Sifat-sifat
dan kepentingan yang berkenaan dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu
pembinaan manusia mukmin yang mengaku sebagai hamba Allah swt.
2.
Berkenaan
dengan metode yang betul-betul berlaku yang disebutkan dalam Alquran atau
disimpulkan dari padanya.
3.
Membicarakan
tentang penggerakan (motivasi) dan disiplin, dalam istilah Alquran disebut
ganjaran (tsawab) dan hukum (iqab)
Metode Qur’ani tersebut mengarahkan pendidikan untuk berorientasi
kepada educational need dari anak didik di mana faktor human nature yang
potensial pada tiap pribadi anak dapat dijadikan sentrum proses pendidikan
sampai kepada batas perkembangannya. Pelaksanaan dan pemilihan metode yang
tepat guna, selain memudahkan bahan pengajaran untuk diterima murid-murid, juga
diharapkan hubungan antara murid dan guru tidak terputus. Hubungan yang
demikian sangat penting untuk membina karakter murid dan kewibawaan guru
sebagai pendidik yang harus dihormati dan dimuliakan.
C. Epistemologi Filsafat
Pendidikan Islam
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia.
Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi
mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu
sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi
pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan
kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai
mereka.
Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud
sains dan teknologi yang maju di suatu negara, karena didukung oleh penguasaan
dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa
fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh
kemajuan epistemologi.
Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam
merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi
sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi
sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Epistemologi
pendidikan Islam bisa berfungsi sebagai pengkritik, pemberi solusi, penemu dan
pengembang. Melalui epistemologi filsafat pendidikan Islam ini, seseorang
pemikir dapat melakukan : Pertama, teori-teori atau konsep-konsep
pendidikan pada umumnya maupun pendidikan yang diklaim sebagi Islam dapat
dikritisi dengan salah satu pendekatan yang dimilikinya. Kedua,
epistemologi tersebut bisa memberikan pemecahan terhadap problemproblem
pendidikan, baik secara teoritis maupun praktis, karena teori yang ditawarkan
dari epistemologi itu untuk dipraktekkan. Ketiga, dengan menggunakan
epistemologi, para pemikir dan penggali khazanah pendidikan Islam dapat
menemukan teori-teori atau konsepkonsep baru tentang pendidikan Islam.
Selanjutnya, yang keempat, dari hasil temuantemuan baru itu kemudian
dikembangkan secara optimal
Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana
proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses
internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber
yang dimilikinya. Epistemologi pendidikan Islam ini perlu dirumuskan secara
konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan
berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Syarat-syarat itu merupakan kunci dalam
memasuki wilayah pendidikan Islam, tanpa menemukan syarat-syarat itu kita
merasa kesulitan mengungkapkan hakekat pendidikan Islam, mengingat syarat
merupakan tahapan yang harus dipenuhi sebelum berusaha memahami dan mengetahui
pendidikan Islam yang sebenarnya.
Epistemologi filsafat pendidikan Islam adalah upaya, cara, atau
langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan yang berdasarkan
alqur’an dan sunah Nabi saw. Pengaruh pendidikan Barat terhadap pendidikan
Islam yaitu hanya maju secara lahiriyah, tapi kering secara rohaniyah. Ukuran
hasil pendidikan hanya dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang diserap
peserta didik, tetapi tidak pada kesadaran diri peserta didik untuk bertindak
sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Sistem pendidikan Islam harus menempatkan alqur’an maupun sunnah
sebagi pemberi petunjuk ke arah mana proses pendidikan digerakkan. Pembaruan
epistemologi filsafat pendidikan Islam seharusnya dikembangkan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir
kreatif, otentik dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang
tetapi dengan cara berfikir. Upaya membangun epistemologi filsafat pendidikan
Islam seharusnya para pakar dan pemegang kebijakan dalam pendidikan Islam
mengadakan pembaruan secara komprehensif terhadap metode atau pendekatan yang
dipakai membangun pendidikan Islam.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia,
dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Epistemologi juga berbicara
tentang: sumber-sumber pengetahuan, Kebenaran Pengetahuan, dan Batasan
Pengetahuan. Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana
proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses
internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber
yang dimilikinya. Epistemologi filsafat pendidikan Islam ini perlu dirumuskan
secara konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan
berdasarkan ajaranajaran Islam. Pembaharuan epistemologi filsafat pendidikan
Islam seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir kreatif, otentik
dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang tetapi dengan cara
berfikir.
B. Saran
Demikian makalah ini kami buat, apabila dalam penulisan makalah ini
terdapat kesalahan atau kekeliruan atau pun yang lainya, kami mohon maaf. Untuk
itu kami mengharapkan kiritik dan saran guna melengkapi makalah ini, Karena
sifat kesempurnaan hanya milik Allah semata dan kami hanyalah manusia biasa
yang hakikatnya punya salah dan kekurangan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
untuk kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin M A Ilmu Pendidikan Islam
Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdispiliner
[Book]. - Jakarta : Bumi Aksara, 1991.
Bakhtiar Amsal Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan
Kepercayaan Manusia [Book]. - Jakarta : Rajawali Pers, 2014.
Basa'ad Tazkiyah Studi Dasar Filsafat [Book]. -
Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018.
Djollong Andi Fitriani Epistemologi Filsafat Pendidikan
Islam [Journal]. - Parepare : ISTIQRA, 2015. - Vol. III.
Hasan Fuad Beberapa Asas Metodologi Ilmiyah, dalam
Koentjaranigrat (ed), Metode-Metode Penelitian Masyarakat [Book]. -
Jakarta : Gramedia, 1997. - Vol. Hal 16.
Langgulung Hasan Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan
Islam [Book]. - Bandung : Al-Ma'arif, 1980.
Ma'luf Luis Al-Munjid Fiy Al-Lugah Wa A'Lam
[Book]. - Bairut : Dar Al Masyriq, 1986.
Muhaemin and Majid Abdul Pemikiran Pendidikan Islam kajian
Filosofis dan Kerangka Operasionalnya [Book]. - Bandung : Trigend
Karya, 1993. - Vol. hal 232.
Muhmidayeli Filsafat Pendidikan [Book]. -
Bandung : Refika Aditama, 2013. - Vol. Cet.II.
Poerwodarminto W. J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia
[Book]. - Jakarta : Balai Pustaka, 1986. - Vol. hal 173.
Qomar Mujamil Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode
Rasional hingga Metode Kritik [Book]. - Jakarta : Erlangga, 2021.
Rumi Fuad Filsafat Ilmu [Book]. -
Makasar : UMI Toha Press, 2000. - Vol. Hal 33.
Surakhmad Winarno Metodologi Pengajaran Nasional
[Book]. - Bandung : Jemmars, 1996. - Vol. hal 75.
Syaifuddin Filsafat Ilmu: Mengembangkan Kreatifitas dalam
Proses keilmuan [Book]. - Bandung : Cita Pustaka, 2010.
Variabel Penelitian Lengkap
A.
Pengertian Variabel Penelitian
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu
yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Kerlinger berpendapat bahwa varaibel adalah konstrak
(constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya,
tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, produktifitas
kerja, dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat
dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda
(different values). (Sani, 2012)
Sedangkan menurut Kidder menyatakan bahwa variabel penelitian
adalah suatu atribut atau sifat kualitas (qualiteis) dimana peneliti
mempelajari dan menarik kesimpulan darinya
(Louise, 1981).
Secara teorotis variabel dapat didevinisikan sebagai atribut
seseorang atau obyek, yang mempunyai “Variasi” antara satu dengan yang lainnya
atau satu obyek dengan obyek lainnya Variabel juga dapat merupakan atribut dari
bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Seperti contoh Tinggi, berat badan,
sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin
kerja merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Struktur organisasi,
model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur dan
mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan itu semua adalah merupakan
contoh variabel dalam kegiatan administrasi (Sugiyono, 2018).
Variabel
adalah gejala penelitian yang memiliki variasi. Misalnya, jenis kelamin sebagai
gejala memiliki variasi perempuan dan laki-laki. Berat badan variasinya: 20 kg,
30 kg, 40 kg, 50 kg, dan sebagainya. Gejala adalah objek penelitian, sehingga
variabel adalah objek penelitian yang bervariasi.
Berdasarkan
beberapa pengertian-pengertian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa variabel penelitian
adalah suatu atribut atau sifat nilai dari suatu obyek, orang atau kegiatan
yang mempunyai variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian sampai ditarik kesimpulannya.
B.
Macam-macam
Variabel dalam Penelitian
Secara
umum variabel dibagi menjadi dua:
1. Variabel
Kualitatif (Qualitative Variable), yaitu variabel yang tidak dapat diukur
dengan angka dan takaran yang pasti. Seperti: kecerdasan, kepandaian, keimanan,
semangat, kemakmuran dan lainnya. Data dalam variabel ini disebut data
kualitatif.
2. Variabel
Kuantitatif (Quantitative Variable), yaitu variabel yang bisa diukur dengan
angka dan takaran secara lebih pasti. Misalnya: umur, luas daerah, curah hujan,
kelembaban udara, dan lain-lain. Data yang dicatat dalam variabel ini disebut
data kuantitatif.
Variabel kuantitatif
dibagai menjadi dua bagian:
a. Variabel
Diskrit (Descrete Variable), yaitu variabel yang dapat digolongkan menjadi dua
golongan secara kontras. Misalnya: laki-laki dan perempuan, hadir dan tidak
hadir, bawah dan atas, lulus dan gagal. Angka-angka dalam variabel ini disebut
frekuensi, sedangkan data dari angka variabel ini disebut data diskrit.
b. Variabel
Kontinum (Continous Variable), yaitu variabel yang berkesinambungan, baik dalam
bentuk tingkatan, jarak ataupun perbandingan. Data yang yang ada dalam variabel
ini disebut data kontinum.
Variabel Kontinum di bagi menjadi tiga
jenis variabel:
1) Variabel
Bertingkat (Ordinal Variable), yaitu variabel yang menunjukkan
tingkatan-tingkatan misalnya: panjang, kurang panjang, pendek; pandai, cukup
pandai, bodoh dan lain lain. Variabel ini bersifat “lebih kurang”, agak tidak
pasti. Datanya disebut data kontinum bertingkat.
2) Variabel
Berjarak (Interval Variable), yaitu variabel yang mempunyai jarak jika
dibanding dengan variabel lain, sedang jarak itu dapat diketahui dengan pasti
misalnya: variabel suhu udara di luar 30°C. Suhu tubuh manusia 37°C. Jarak
antara keduanya adalah 7°C, variabel interval bersifat lebih pasti dari pada
variabel ordinal karena jarak variabel ordinal biasanya sulit diukur. Misalnya
Ali lebih pandai dari Amin. Datanya disebut kontinum berjarak yang berukuran.
3) Variabel
perbandingan (Ratio Variable). Variabel ini dalam hubungan antar-sesamanya
merupakan “sekian kali”, misalnya berat badan bayi kembar rata-rata 1,5 kg.
Berat bayi tunggal rata-rata 3 kg. Maka berat bayi tunggal dua kali lipat berat
bayi kembar; Berat Pak Dhani 60 kg, sedangkan anaknya 30 kg. Maka Pak Dhani beratnya
dua kali anaknya. Datanya disebut data kontinum berperbandingan.
Menurut hubungannya antara satu variabel
dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat
dibedakan menjadi lima, yaitu (Sugiyono, 2010):
1. Variabel
Independen
Variabel ini sering
disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent, variabel bebas.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam SEM (Structural
Equation Modeling/Pemodelan Persamaan Struktural), variabel independen disebut
sebagai variabel eksogen.
2. Variabel
Dependen
Variabel ini sering
disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen, variabel terikat.
Variebel terikat merupakan variebel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas. Dalam SEM (Struktural Equation Modeling/Pemodelan
Persamaan Struktural) variabel dependen disebut sebagai variabel indogen.

Gambar 1.1 : Contoh Hubungan Variabel
Independen dan Dependen
3. Variabel
Moderator
Variabel Moderator
adalah yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel
independen dan dependen. Variabel moderator disebut juga sebagai variabel
independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan istri akan semakin baik (kuat)
kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ketiga ikut
mencampuri. Di sini anak adalah variabel moderator yang memperkuat hubungan,
dan pihak ketiga adalah variabel moderator yang memperlemah hubungan. Hubungan
motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila peranan guru dalam
menciptakan iklim belajar sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila peranan
guru kurang baik dalam menciptakan iklim belajar.
Jumlah Anak

(Variabel Moderator)
Gambar
1.2 a: Contoh Hubungan Variabel Independen, Moderator, dan Dependen
Peranan Guru

(Variabel Moderator)
Gambar
1.2 a: Contoh Hubungan Variabel Independen, Moderator, dan Dependen
4. Variabel
Intervening
Variabel Intervening
adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel
independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat
diamati dan diukur. Variabel ini merupkan variabel penyela/antara yang terletak
di antara variabel indepemnden dan dependen, sehingga variabel independen tidak
langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
Pada contoh berikut ini
dikemukakan bahwa tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak
langsung terhadap harapan hidup (panjang pendeknya umur). Dalam hal ini ada
variabel antaranya, yaitu yang berupa gaya hidup seseorang. Antara variabel
penghasilan dengan gaya hidup, terdapat variabel moderator, yaitu budaya
lingkungan tempat tinggal.
Lingkungan Tempat Tinggal

(Variabel Moderator)
Gambar 1.3 : Contoh Hubungan Variabel Independen,
Moderator, Intervening, Dependen
5. Variabel
Kontrol
Variabel Kontrol adalah
variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel
independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak
diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan
penelitian yang bersifat membandingkan.
Contoh: Pengaruh jenis
pendidikan terhadap keterampilan dan mengetik.. Variabel independennya
pendidikan (SMU dan SMK), variabel yang ditetapkan sama misalnya, adanya naskah
yang diketik sama, mesin ketik yang digunakan sama, ruang tempat mengetik sama.
Dengan adanya variabel kontrol tersebut, maka besarnya pengaruh jenis
pendidikan terhadap keterampilan mengetik dapat diketahui lebih pasti.

Gambar 1.4 : Contoh Hubungan Variabel
Independen, Kontrol, Dependen
C.
Penerapan
Variabel dalam Penelitian
Bila
variabel itu digunakan dalam penelitian maka akan dijumpai:
1. Variabel
sebab atau variabel bebas atau independent variable atau variabel X.
2. Variabel
akibat atau variabel terikat atau dependent variable atau variabel Y. Misalnya
penelitian tentang pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanaman di musim hujan.
Metode yang digunakan adalah eksperimen. Kelompok eksperimen adalah tanaman
yang diberi pupuk dengan kadar tertentu. Kelompok kontrol adalah jenis tanaman
yang sama dengan tanaman dalam kelompok eksperimen yang tidak diberi pupuk
dengan takaran kg (variabel kontinum). Kesuburan tanaman dicatat dengan
mengukur perkembangan panjang batang dan besarnya daun dengan cm (variabel
kontinum) (Mahmud, 2022).
Dari
contoh di atas diketahui bahwa ada variabel penyebab atau yang mempengaruhi
yaitu pupuk. Variabel ini disebut variabel bebas (independent variable) yang
dilambangkan dengan variabel X. Sedangkan variabel akibat atau yang dipengaruhi
(kesuburan tanah) bersifat terikat dan tergantung pada variabel sebab atau
bebas. Karena itu disebut dependent variable atau variabel Y.
Bila
variabelnya hanya satu dan mengandung satu hal disebut variabel tunggal. Pupuk
dalam contoh di atas termasuk variabel tunggal. Sedangkan bila variabel lebih dari
satu, atau satu tapi mengandung unsur-unsur yang banyak maka disebut variabel
majemuk. Misalnya “pengaruh lingkungan belajar terhadap semangat belajar”.
Lingkungan belajar mengandung unsur-unsur: lingkungan belajar di sekolah,
lingkungan belajar di rumah dan di masyarakat. Dalam judul penelitian di atas
digunakan variabel independent majemuk karena variabelnya ada tiga.
Sedangkan
semangat belajar diartikan dengan: 1) tingkat jumlah jam yang digunakan untuk
belajar setiap hari. 2) jumlah kali belajar setiap hari. Ini berarti peneliti
juga menggunakan variabel dependent yang majemuk. Karena variabel yang
digunakan lebih dari satu.
Pada
variabel majemuk yang terdiri dari satu tetapi mengandung banyak unsur menuntut
kemampuan peneliti:
1. Memahami
luas pengertian yang dicakup oleh variabel.
2. Mengklasifikasi
luar pengertian itu menjadi beberapa sub variabel secara logis, rasional dan
sistematis.
3. Mengidentifikasi
variabel sehingga jelas batas cakupan isi pengertian yang dikandung oleh setiap
sub variabel (konotatif), jelas luas makna yang ditunjuk (denotatif), jelas
batas tingkatnya (struktural), jelas pembagian makna yang dikandung (skematis)
dan jelas ciri-ciri khas yang dikandung oleh setiap sub variabel (identikal).
Sub
variabel yang diperoleh dari tiga proses tersebut (pemahaman luas, klasifikasi
dan identifikasi) disebut variabel indikator. Disebut demikian karena sub
variabel itu memberikan tanda-tanda dan bukti-bukti yang dijadikan pedoman
dalam:
1. Merumuskan
hipotesis minor. Variabel yang mengandung makna terlalu luas tanpa dibagi ke
dalam sub-sub variabel akan menghasilkan kesimpulan yang terlalu luas, sehingga
terkesan terlalu menggeneralisir masalah.
2. Menyusun
instrumen (alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data).
3. Memahami
cakupan jenis-jenis data yang diperlukan.
Berhubung
pentingnya kategorisasi variabel penelitian, berikut ini disajikan contoh
penjabaran variabel dan dilengkapi cara memperoleh datanya.
Contoh
penelitian dengan judul:
“Pengaruh Kualitas Guru terhadap
Prestasi Belajar Murid”
Independent
Variabel (X) : Kualitas
Guru
Dependent
Variabel (Y) :
Prestasi Belajar Murid
|
Independent
Variabel: |
Dependent
Variabel: |
|
Sub Variabel : 1.
Pendidikan
Guru (Dokumen) 2.
Pengalaman
Mengajar (Dokumen) 3.
Banyaknya
Penataran (Dokumen) 4.
Usia (Dokumen) 5.
Minat menjadi
Guru (Kuesioner kepada guru) 6.
Penguasaan
terhadap materi pelajaran (Kuesioner kepada murid) 7.
Pendekatan/cara
mengajar (observasi dan kuesioner murid) 8.
Cara memilih
alat dan cara menggunakannya (observasi dan kuesioner murid) 9.
Hubungan
guru-murid (kuesioner murid) 10.
Pribadi guru
(interview, kuesioner berbagai pihak) 11.
Kelurga guru
(interview, atau kuesioner) 12.
Cara
memberikan pekerjaan rumah (PR) (kuesioner atau interview) 13.
Dan sebagainya |
Sub Variabel : 1. Nilai harian (dokumen) 2. Nilai ulangan umum (dokumen) 3. Nilai tugas-tugas (dokumen) 4. Cara menjawab pertanyaan di kelas (observasi) 5. Cara menyusun laporan (dokumen) 6. Nilai ketelitian catatan (dokumen) 7. ketekunan, keuletan (observasi) 8. Usaha (observasi 9.
Dan sebagainya |
Sumber : Arikunto (2002:100) (Arikunto, 2002)
Keterangan :
Yang di tulis dalam tanda kurung adalah cara atau
metode bagaimana data di peroleh.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Manajemen Penelitian [Book]. - Jakarta : Renika Cipta,
2002.
Louise Kidder Research
Methods in Social Relation [Book]. - Rinehart and Winston : Holt,
1981.
Mahmud Skala Pengukuran
Variabel-Variabel Penelitian Pendidikan Agama Islam [Book]. - Mojokerto
Jawa Timur : Yayasan Pendidikan Uluwiyah, 2022.
Sani Mahmud Moh
Metodologi Penelitian [Book]. - Mojokerto : Thoriq Al-Fikri,
2012. - Vol. Hal 66.
Sugiyono Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R& D [Book]. - Bandung :
Al Fabet, 2018. - Vol. 38.
Sugiyono Metode
Penelitian Pendidikan [Book]. - Bandung : Alfabeta, 2010. -
Vols. hal 61-65.