Selasa, 19 Maret 2024

EPISTEMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


EPISTEMOLOGI
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Bekang Masalah

Kebijaksanaan adalah semacam pengetahuan. Filsafat pada umumnya menggeluti bagaimana kita tahu benda-benda dan apa yang dapat kita ketahui. Pengetahuan filosofis bukanlah pengetahuan ilmiah. Faktanya, banyak filosof modern mengklaim bahwa filsafat merupakan suatru keterampilan, suatu cara berfikir mengenai dunia. Filsafat bukanlah apa yang anda ketahui, tetapi bagaimana anda berfikir. Dalam kajian filsafat tentang pengetahuan, terdapat salah satu persoalan penting yaitu tentang epistemologi.

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme yang memiliki arti pengetahuan atau knowledge dan logos yang berarti teori. Istilah-istilah lain yang setara dengan epistemologi adalah Kriteriologi yaitu cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atau tidaknya pengetahuan. Objek material epistemologii adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan (Basa'ad, 2018).

Epistemologi ialah pengetahuan tentang suatu upaya untuk menempatkan sesuatu di dalam kedudukan setepatnya atau upaya-upaya intelektual memutuskan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar serta mendudukkan pengetahuan di dalam tempat yang benar (Syaifuddin, 2010). Epistemologi pada hakekatnya membahas tentang pengetahuan, yang berkaitan dengan apa itu pengetahuan dan bagaimana memperoleh pengetahuan tersebut (Bakhtiar, 2014).

Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan dan cara menyampaikannya seperti apa? Semua itu adalah epistemologinya pendidikan.

Epistomologi filsafat pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh filsafat pendidikan Islam dengan cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam semesta (Djollong, 2015). Epistemologi beorientasi pada bagaimana membangun paradigma pendidikan Islam yang tetap sesuai dengan alqur’an dan hadis.


 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?

2.       Bagaimana Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?

3.      Bagaimana Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?

C.    Tujuan

1.      Untuk memahami pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.

2.      Untuk memahami Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.

3.      Untuk memahami Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam

  


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam

Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani; episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedang logos berarti teori, uraian atau juga berarti pengetahuan. Jadi, epistemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan (Rumi, 2000). Pembicaraan tentang epistemologi pada pokoknya berhubungan dengan upaya untuk menjawab bagaimana karakteristik pengetahuan ilmiah, bagaimana metodologi memperolehnya dan apa kriteria keabsahan dan kebenarannya, serta bagaimana menguji setiap kebenaran yang diketahui manusia. Secara sederhana, epistemologi dapat dipahami sebagai ilmu tentang metode dalam menemukan dan mentransfer pengetahuan yang merupakan salah satu bagian utama pendidikan.

Epistemologi merupakan tahapan berikutnya setelah pembahasan ontologi dalam filsafat. “Istilah epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yaitu epistemologi dan ontologi (metafisika umum). Kalau dalam metafisika pertanyaannya adalah apa yang ada itu? Maka pertanyaan dasar dalam epistemologi adalah apa yang dapat saya ketahui?”

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge. Dengan kata lain, epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Isu-isu yang akan muncul berkaitan dengan masalah epistemologi adalah bagaimana pengetahuan itu bisa diperoleh? Jika keberadaan itu mempunyai gradasi (tingkatan), mulai dari yang metafisik hingga fisik maka dengan menggunakan apakah kita bisa mengetahuinya? Apakah dengan menggunakan indera sebagaimana kaum empiris, akal sebagaimana kaum rasionalis atau bahkan dengan menggunakan intuisi sebagaimana urafa’ (para sufi)? Oleh sebab itu yang perlu dibahas berkaitan dengan masalah ini adalah tentang teori pengetahuan dan metode ilmiah serta tema-tema yang berkaitan dengan masalah epistemologi.


Berbicara tentang asal-usul pengetahuan maka ilmu pengetahuan ada yang berasal dari manusia dan dari luar manusia. Pengetahuan yang berasal dari manusia meliputi pengetahuan indera, ilmu (akal) dan filsafat. Sedangkan pengetahuan yang berasal dari luar manusia (berasal dari Tuhan) adalah wahyu. Pembahasan epistemologi meliputi sumber-sumber atau teori pengetahuan, kebenaran pengetahuan, batasan dan kemungkinan pengetahuan, serta klasifikasi ilmu pengetahuan (Muhmidayeli, 2013).

Hal ini berkaitan dengan apa manfaat dari ilmu itu sendiri. Firman Allah dalam surah Al-Mujadalah: ayat 11 sebagai berikut :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. AL-Mujadalah:11).

Maka dari dapat di simpulkan bahwa Epistomologi filsafat pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh filsafat pendidikan Islam dengan cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam semesta (Djollong, 2015). Epistemologi beorientasi pada bagaimana membangun paradigma pendidikan Islam yang tetap sesuai dengan alqur’an dan hadis.

B.   Ruang Lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam

Epistemologi berbicara tentang:

1.      Sumber-sumber Pengetahuan

Salah satu pokok pembahasan epistemologi adalah mengenai sumber-sumber pengetahuan. Dengan fakultas apa manusia mencapai pengetahuan? Bagaimanakah nilai pengetahuan yang diperoleh manusia? Sampai batasan mana manusia memeroleh pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan ini terkait erat dengan sumbersumber pengetahuan. Apa saja sumber-sumber pengetahuan?


Murtadha Muththahari mengatakan bahwa sumber pengetahuan tidak hanya rasio dan hati, melainkan alam dan sejarah. Sedangkan M. Taqi Mishbah Yazdi lebih menekankan fakultas indriawi dan akal sebagai sumber pengetahuan. Adapun fakultas hati, dalam mencapai pengetahuan, merupakan ranah ‘irfan bukan filsafat. Agaknya karena alasan inilah bahwa fakultas hati (qalb, fu’ad) merupakan pembahasan ‘irfan bukan filsafat, kita bisa memahami pandangan Yazdi yang tidak begitu menekankan daya hati dalam epistemologi yang merupakan cabang filsafat. Ada juga yang menganggap bahwa sumber pengetahuan yang hakiki (primer) adalah wahyu sedangkan daya-daya lain lebih sebagai sumber sekunder.

2.      Kebenaran Pengetahuan

Sebelum membahas tentang teori kebenaran terlebih dahulu penting kiranya untuk mendefinisikan apa arti kebenaran itu sendiri. Kebenaran menjadi isu sentral dalam ilmu pengetahuan karena tujuan dari ilmu pengetahuan adalah untuk mencari kebenaran. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Purwadaminta ditemukan arti kebenaran, yakni keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya).

Menurut William James yang dikutip oleh Titus dkk (1984: 344), kebenaran (truth) adalah yang menjadikan berhasil cara kita berpikir dan kebenaran adalah yang menjadikan kita berhasil cara kita bertindak. Sedangkan menurut Louis Kattsoff ‘kebenaran’ menunjukkan bahwa makna sebuah ‘pernyataan’ artinya, proposisinya sungguh-sungguh merupakan halnya. Bila proposisinya bukan merupakan halnya, maka kita mengatakan bahwa proposisi itu “sesat”.

Dalam epistemologi terdapat 4 (empat) jenis kebenaran, yakni (1) kebenaran religius, (2) kebenaran filosopis, (3) kebenaran estetis, dan (4) kebenaran ilmiah.

Adapun masing-masing kebenaran tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a.       Kebenaran religius adalah kebenaran yang memenuhi atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah agama atau keyakinan tertentu disebut juga kebenaran mutlak yang tidak dapat dibantah lagi. Bentuk pemahamannya adalah dogmatis. Hal yang dimaksud agama adalah ketentuan-ketentuan atau ajaran yang diturunkan melalui wahyu, bukan hasil pemikiran atau perenungan manusia.

b.      Kebenaran filosofis adalah kebenaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi para filsuf yang disebut hakikat (the nature), meskipun bersifat subyek dan relative namun mendalam, karena melalui penghayatan eksistensial,


bukan hanya pengalaman dan pemikiran intelektual semata. Kebenaran filosofis ini berguna untuk menyadarkan kita pada relatifnya pengetahuan yang kita miliki karena pengetahuan itu terus berubah atau berkembang.

c.       Kebenaran estetis adalah kebenaran yang berdasarkan penilaian indah dan buruk, serta cita rasa estetis. Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas yang menimbulkan rasa senang, tenang dan nyaman. Misalnya : bentuk dua dimensi yang seimbang adalah dengan skala 2 x 3. Hukum estetika ini rupanya digunakan untuk ukuran bendera sedunia.

d.      Kebenaran ilmiah adalah terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanya teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti, kebenaran rasional yang ditunjang hasil lapangan yang disebut bukti empiris. Kebenaran teoritis adalah kebenaran yang berdasarkan rasio atau rasional berdasarkan teori-teori yang menunjangnya. Pengertian bukti disini adalah bukti empiris, yaitu hasil pengukuran obyektif dilapangan. Sifat obyektif berlaku umum, dan dapat diulang melelui eksperimentasi.

3.      Batasan Pengetahuan

Berbicara tentang masalah ontologi memang sangat luas sekali cakupannya. Ia tidak hanya berbicara soal keberadaan yang sifatnya materi tetapi juga immateri. Kalau wujud yang materi bisa diketahui dengan menggunakan pendekatan empiris maka wujud immateri hanya kita yakini keberadaannya begitu saja. Paling kita percaya karena wujud yang immateri itu seperti keberadaan Tuhan, surga, neraka dan lainnya diterangkan dalam kitab suci (wahyu) bagi kalangan yang beragama. Bagi para penganut paham ateisme tentu saja mereka tidak memercayai hal-hal yang bersifat immateri tersebut.

Lantas apakah batas yang merupakan ruang lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lain? Jawaban dari semua pertanyaan itu sangat sederhana. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka? Jawabnya adalah tidak sebab surga dan neraka berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia? Jawabnya juga adalah tidak sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman kita.


Baik hal yang terjadi sebelum hidup maupun yang terjadi setelah kematian kita, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu. Dengan demikian yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah pengetahuan yang hanya bisa dijangkau oleh akal manusia dan bahkan yang bisa diuji kebenarannya secara empiris. Sebuah ilmu harus memenuhi standar metodologis dan bisa diuji dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

Jika suatu ilmu itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia bagaimana kita bisa menguji kebenarannya  dengan standar metodologis dan metode-metode ilmiah. Pembatasan ruang lingkup ilmu yang seperti ini nampaknya sangat sempit sekali. Memang hal ini tidak bisa dilepaskan dari tradisi keilmuan yang berkembang di Barat. Ilmu yang dalam bahasa Barat disebut dengan science merupakan suatu pengetahuan yang tidak diragukan lagi kebenarannya karena ia memenuhi standarstandar ilmiah. Ia bisa dibuktikan secara empiris dan bisa di eksperimentasi. Sehingga suatu ilmu yang tidak memenuhi kualifikasi itu bukanlah merupakan ilmu. Oleh sebab itu sesuatu hal yang sifatnya immateri bukan termasuk objek kajian ilmu dan bahkan ia dianggap tidak ada. Seperti itulah asumsi para saintis tentang ilmu terutama yang berkembang di dunia Barat.

Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.

Metode berasal dari bahasa Yunani methodas, berarti cara atau jalan (Hasan, 1997). Dalam bahasa Inggris adalah method, Jadi, metode berarti jalan atau alat untuk mencapai sesuatu, atau tujuan (Surakhmad, 1996). Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata metode mengandung arti “cara yang teratur dan baik untuk mencapai maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan guna mencapai suatu tujuan yang ditentukan (Poerwodarminto, 1986). Sementara dalam litratur pendidikan Islam, ditemukan beberapa istilah yang ekuefalen dengan methode pendidikan islam. Istilah dimaksud antara lain: manhaj al-tarbiyah al-Islamyah, wasilah al-tarbiyah al-Islamiyah, kaifiyah al-tarbiyah al-Islamiyah, dan tariqah al-tarbiyah al-Islamiyah.


Dari istilah tersebut yang paling popular dan akrab dalam dunia pendidikan Islam adalah tarikat, yang antara lain berarti jalan yang harus ditempuh (Ma'luf, 1986). Metode memiliki posisi yang sangat strategis dalam suatu kegiatan. Bila suatu aktifitas tidak didukung metode yang baik, maka dapat dipastikan usaha tersebut tidak akan mungkin mencapai hasil yang maksimal. Demikian pula dalam aktivitas pendidikan peran metode sanagt menetukan pencapaian tujuan pendidikan. Karena tingkat urgensitasnya yang sangat tingggi, maka seorang pendidik tidak hanya dituntut menguasai sejumlah teori atau materi yang akan diajarkan kepada anak didik, tetapi juga sekaligus dituntut untuk mengetahui sejumlah metode pendidikan guna kelangsungan proses transpermasi dan internalisasi materi pelajaran (Muhaemin, et al., 1993). Untuk mencapai maksud tersebut, maka materi pelajaran yang akan disuguhkan harus bersinergi dengan methode yang akan diterapkan (Arifin, 1991). Tanpa didukung oleh methode yang baik, suatu materi pelajaran tidak akan mungkin berproses secara efektif dan efisien.

Metode pendidikan sebagaimana lazimnya komponen ilmu pendidikan yang lain mengalami perkembangan mengikuti kemajuan zaman. Namun demikian pengembangan metode harus berbarengan dengan bagian kain dalam pendidikan, misalnya: tujuan pendidikan yang akan dicapai, kondisi anak didik, kemampuan pendidik dan materi yang akan diajarkan.

Secara metodologis, pendidikan Islam dituntut mampu mensosialisasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang suci dan transedental baik terhadap individu peserta didik maupun kepada masyarakat luas. Untuk memenuhi desakan kebutuhan variasi metodologi pendidikan Islam dapat merujuk pada sumber ajaran Islam yaitu Alquran dan sunnah sebagai dasar yang asasi dalam ajaran Islam.

Gaya bahasa Alquran dan ungkapan yang terdapat dalam ayatayat Alquran mengindikasikan bahwa Alquran mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan dengan corak dan ragam yang berbeda sesuai waktu dan tempat.19 Keragaman metode pendidikan dalam Alquran dimaksudkan untuk memberikan solusi alternatif terbaik bila ditemukan kendala dalam pendidikan Islam khususnya aspek metodologis.


Menurut M. Arifin, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar, menuju tujuan pendidikan (Arifin, 1991). Sementara itu, Hasan Langgulung berpendapat bahwa penggunaan metode didasarkan atas tiga aspek pokok, yaitu:

1.      Sifat-sifat dan kepentingan yang berkenaan dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu pembinaan manusia mukmin yang mengaku sebagai hamba Allah swt.

2.      Berkenaan dengan metode yang betul-betul berlaku yang disebutkan dalam Alquran atau disimpulkan dari padanya.

3.      Membicarakan tentang penggerakan (motivasi) dan disiplin, dalam istilah Alquran disebut ganjaran (tsawab) dan hukum (iqab) (Langgulung, 1980).

Metode Qur’ani tersebut mengarahkan pendidikan untuk berorientasi kepada educational need dari anak didik di mana faktor human nature yang potensial pada tiap pribadi anak dapat dijadikan sentrum proses pendidikan sampai kepada batas perkembangannya. Pelaksanaan dan pemilihan metode yang tepat guna, selain memudahkan bahan pengajaran untuk diterima murid-murid, juga diharapkan hubungan antara murid dan guru tidak terputus. Hubungan yang demikian sangat penting untuk membina karakter murid dan kewibawaan guru sebagai pendidik yang harus dihormati dan dimuliakan.

C.   Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam

Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka.

Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju di suatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi.


Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Epistemologi pendidikan Islam bisa berfungsi sebagai pengkritik, pemberi solusi, penemu dan pengembang. Melalui epistemologi filsafat pendidikan Islam ini, seseorang pemikir dapat melakukan : Pertama, teori-teori atau konsep-konsep pendidikan pada umumnya maupun pendidikan yang diklaim sebagi Islam dapat dikritisi dengan salah satu pendekatan yang dimilikinya. Kedua, epistemologi tersebut bisa memberikan pemecahan terhadap problemproblem pendidikan, baik secara teoritis maupun praktis, karena teori yang ditawarkan dari epistemologi itu untuk dipraktekkan. Ketiga, dengan menggunakan epistemologi, para pemikir dan penggali khazanah pendidikan Islam dapat menemukan teori-teori atau konsepkonsep baru tentang pendidikan Islam. Selanjutnya, yang keempat, dari hasil temuantemuan baru itu kemudian dikembangkan secara optimal (Qomar, 2021).

Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber yang dimilikinya. Epistemologi pendidikan Islam ini perlu dirumuskan secara konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Syarat-syarat itu merupakan kunci dalam memasuki wilayah pendidikan Islam, tanpa menemukan syarat-syarat itu kita merasa kesulitan mengungkapkan hakekat pendidikan Islam, mengingat syarat merupakan tahapan yang harus dipenuhi sebelum berusaha memahami dan mengetahui pendidikan Islam yang sebenarnya.

Epistemologi filsafat pendidikan Islam adalah upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan yang berdasarkan alqur’an dan sunah Nabi saw. Pengaruh pendidikan Barat terhadap pendidikan Islam yaitu hanya maju secara lahiriyah, tapi kering secara rohaniyah. Ukuran hasil pendidikan hanya dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang diserap peserta didik, tetapi tidak pada kesadaran diri peserta didik untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.


Sistem pendidikan Islam harus menempatkan alqur’an maupun sunnah sebagi pemberi petunjuk ke arah mana proses pendidikan digerakkan. Pembaruan epistemologi filsafat pendidikan Islam seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir kreatif, otentik dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang tetapi dengan cara berfikir. Upaya membangun epistemologi filsafat pendidikan Islam seharusnya para pakar dan pemegang kebijakan dalam pendidikan Islam mengadakan pembaruan secara komprehensif terhadap metode atau pendekatan yang dipakai membangun pendidikan Islam.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Epistemologi juga berbicara tentang: sumber-sumber pengetahuan, Kebenaran Pengetahuan, dan Batasan Pengetahuan. Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber yang dimilikinya. Epistemologi filsafat pendidikan Islam ini perlu dirumuskan secara konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan berdasarkan ajaranajaran Islam. Pembaharuan epistemologi filsafat pendidikan Islam seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir kreatif, otentik dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang tetapi dengan cara berfikir.

B.     Saran

Demikian makalah ini kami buat, apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan atau kekeliruan atau pun yang lainya, kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kiritik dan saran guna melengkapi makalah ini, Karena sifat kesempurnaan hanya milik Allah semata dan kami hanyalah manusia biasa yang hakikatnya punya salah dan kekurangan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin M A Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdispiliner [Book]. - Jakarta  : Bumi Aksara, 1991.

Bakhtiar Amsal Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia [Book]. - Jakarta : Rajawali Pers, 2014.

Basa'ad Tazkiyah Studi Dasar Filsafat [Book]. - Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018.

Djollong Andi Fitriani Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam [Journal]. - Parepare : ISTIQRA, 2015. - Vol. III.

Hasan Fuad Beberapa Asas Metodologi Ilmiyah, dalam Koentjaranigrat (ed), Metode-Metode Penelitian Masyarakat [Book]. - Jakarta : Gramedia, 1997. - Vol. Hal 16.

Langgulung Hasan Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam [Book]. - Bandung : Al-Ma'arif, 1980.

Ma'luf Luis Al-Munjid Fiy Al-Lugah Wa A'Lam [Book]. - Bairut : Dar Al Masyriq, 1986.

Muhaemin and Majid Abdul Pemikiran Pendidikan Islam kajian Filosofis dan Kerangka Operasionalnya [Book]. - Bandung : Trigend Karya, 1993. - Vol. hal 232.

Muhmidayeli Filsafat Pendidikan [Book]. - Bandung : Refika Aditama, 2013. - Vol. Cet.II.

Poerwodarminto W. J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia [Book]. - Jakarta : Balai Pustaka, 1986. - Vol. hal 173.

Qomar Mujamil Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode Rasional hingga Metode Kritik [Book]. - Jakarta : Erlangga, 2021.

Rumi Fuad Filsafat Ilmu [Book]. - Makasar : UMI Toha Press, 2000. - Vol. Hal 33.

Surakhmad Winarno Metodologi Pengajaran Nasional [Book]. - Bandung : Jemmars, 1996. - Vol. hal 75.

Syaifuddin Filsafat Ilmu: Mengembangkan Kreatifitas dalam Proses keilmuan [Book]. - Bandung : Cita Pustaka, 2010.