Rabu, 10 Januari 2018

FILSAFAT IKHWAN AL SHAFA

MAKALAH

Filsafat Ikhwan Al Shafa

Diajukan untuk salah satu tugas kelompok dalam mata kuliah Filasafat Islam

 

 Di susun oleh : 

1. Imroatul Aziezah (1414111024) 

2. Muhammad Jamaludin (1708101170)

3. Siti Hamidatul W (1708101007) 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 

FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEGURUAN 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON 2017

 

 DAFTAR ISI DAFTAR ISI 

 i PENDAHULUAN 

 1 1.1 Latar Belakang 

1 1.2 Rumusan Masalah 

1 1.3 Tujuan Pembahasan ............................................................................... 1 

PEMBAHASAN 

2 2.1 Biografi Ikhwan Al-Shafa .....................................................................2 2.2 Karya-karya Ikhwan Al-Shafa ..............................................................3 2.3 

Filsafat Ikhwan Al-Shafa .......................................................................5 

PENUTUP 

3.1 Kesimpulan 10 

DAFTAR PUSTAKA

 

 PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang Ilmu pengetahuan

 pada dasarnya sangatlah luasdalam berbagai macam persoalan yang meluas serta didasari oleh pemikiran dan karakteristik yang berbeda. Hal ini sangat berarti dan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dunia khususnya bagi perjalanan panjang ilmu pengetahuan di islam itu sendiri. Seperti halnya filsafat, sudah sangat sering kita dengar dan kita ketahui bahwa awal mulal munculnya filsafat adalah berasal dari Yunani, akan tetapi para filosof, para ahli agama,atau orang-orang muslim semasanyaang senantiasa berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan inin untuk pengetahuan umat muslim. Kemudian di kemas dan dipahami sedemikian rupa serta dikaitkan dengan hal-hal atau ilmu-ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, maka lahirlah filsafat sislam sebagi ilmu pengetahuan yang baru dan menghasilkan ilmu yang memiliki ciri khas unik serta menarik meskipun didasati oleh agama ndan budaya yang begitu beragam. Seperti pembahsan-pembahasan sebelumnhya yang menceritakan tentang para filosof muslim, pada kali ini kelompok kami juga akan membahas tetntang kelompok Ikhwan Al-Shafa dan pemikiran-pemikirannya yang mengacu pada ranah filsafat Islam yang lebih daulu dari Ikhwan Al-Shafa. 

1.2 Rumusasn Masalah 

1. Bagaimana biografi Ikhwan Aal-Shafa? 

2. Apa saja karya-karya dari Ikhwan Al-Shafa? 

3. Bagaimana pemikiran-pemikiran Ikhwan Al-Shafa? 

1.3 Tujuan Pembahasan

 1. Mengetahui sejarah lahirnya Ikhwan Al-Shafa 

2. Mengetahui karya-karya Ikhwan Al-Shafa

 3. Mengetahui pemikiran-pemikiran Ikhwan Al-Shafa

 

 PEMBAHASAN

 2.1 Biografi Ikhwan Ash-Shafa Ikhwan Al-Shafa (Brethren of Purity atau The Pure Brethen) adalah nama sekelompok pemikir Muslim rahasia (filosifiko religious) berasal dari sekta Syiah Islamiyah yang lahir di tengah-tengah komunitas Sunni sekitar abad ke-4 H10 M di Bashrah. Menurut informasi As-Sijistani (w.391 H/1000 M), para pemuka mereka adalah Abu Sulaiman Al-Busti (terkenal dengan gelar Al-Muqaddas), Abu Al-Hasan Az-Zanjani, Abu Ahmad An-Nahraji (alias Al-Mihrajani), Abu Hasan Al-Aufi, dan Zaid bin Rita’ah. Kalangan Syiah, terutama kalangan Syiah Ismaillah mengklaim bahwa Ikhwan Ash-Shafa adalah kelompok dari kalangan mereka. Menurut Hana Al-Fakhrury dan Khalil Al-Jarr bahwa nama Ikhwan Al-Shafa Diekspresikan dari Kisah Merpati dalm cerita Kaliat wa Dumnat yang diterjemahkan oleh Ibnu Muqaffa. Timbulnya organisasi yang bergerak dalm bidang keilmuan dan juga bertendensi politik ini ada hubungannya dengan kondisi dunia Islam ketika itu. Sejak pembatalan teologi rasional Mu’tazilah sebagai mazhab Negara oleh Al-Mutawakkil, maka kaum rasionalis dicopot dari jabatan pemerintahan, kemudian diusir dari Bagdad. Berikutnya penguasa melarang mengajarkan kesusasteraan, ilmu, dan filsafat. Berdasarkan itulah lahirnya Ikhwan Al-Shafa’ yang ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya pada jalan kebahagian yang diridhai Allah. Menurut mereka, syariat telah dinodai bermacam-macam kejahilan dan dilumuri keaneragaman kesatuan. Satu-satunya jalan untuk memberikannya adalah filsafat. Untuk memperluas gerakannya, kelompok ini mengirimkan orang-orangnya ke kota-kota tertentu untuk membentuk cabang-cabang dan mengajak siapa saja yang berminat pada keilmuan dan kebenaran. Walaupun demikian, militasi anggota dan kerahasiaan mereka tetap dijaga. Untuk itu, ada empat tingkatan anggota sebagai berikut :

 1. Ikhwan al-Abrar al-Ruhama, yakni kelompok yang berusia 15-30 tahun yang memiliki jiwa yang suci dan pikiran yang kuat. Mereka berstatus murid, karenanya dituntut tunduk dan patuh secara sempurna kepada guru. 

2. Ikhwan al-Akhyar wa al-Fudhala, yakni kelompok yang berusia 30-40 tahun. Pada tingkat ini mereka sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang dan siap berkorban demi persaudaraan (tingkat guru-guru).

 3. Ikhwan al-Fudhala al-Kiram, yakni kelompok yang berusia 40-50 tahun. Dalam kenegaraan kedudukan mereka sama dengan sultan atau hakim. Mereka sudah mengetahui aturan ketuhanan sebagai tingkatan para nabi. 

4. Al-Kamal, yakni kelompok yang berusia 50 tahun ke atas. Mereka disebut dengan tingkat al-Muqarrabin min Allah karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka sudah berada diatas alam realitas, syariat dan wahyu sebagaimana malaikat al-Muqarrabun.

 2.2 Karya-karya Ikhwan Ash-Shafa 

Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan kelompok ikhwan ash- Shafa ini menghasilkan karya tulis sebanyak 52 risalah yang mereka namakan dengan Rasa’il Ikhwan ash-Shafa. Ditinjau dari segi isi, Rasa’il ini dapat di klasifikasikan menjadi empat bidang: 

a. 14 risalah tentang matematika yang mencakup geometri, astronomi, music, geografi, seni, modal, dan logika. 

b. 17 risalah tentang fisikadan ilmu alam, yang mencakup geneologi, mineralogi, botani, hidup dan matinnya alam, senang sakitnya alam, keterbatasan manusia, dan kemampuan kesadaran. 

c. 10 risalah tentang ilmu jiwa, mencakup metafisika Pythagoreanisme dan kebangkitan alam. 

d. 11 risalah tentang ilmu-ilmu ketuhanan, meliputi kepercayaan dan keyakinan, hubungan alam dengan Allah, akidah mereka, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, magic dan azimat. Aspek pokok rasa’il adalah bagian utamanya yang menampilkan perdebatan panjang antara manusia dan para utusan dari kerajaan binatang; ini mengisi sebagian besar risalah ke-22On How the Animals and Their Kinds are Formed (Netton [1982]:2).Bagian ini telah ditelaah secara ilmiah, dianalisis serta diterjemahkan oleh L.E. Goodman (1978). 

Ikhwan ash-Shafa membagi pengetahuan pada tiga kelompok, yaitu: 

1. Pengetahuan adab/sastra,

 2. Pengetahuan syari’at, dan

 3. Pengetahuan filsafat, mereka membaginya menjadi empat bagian, yaitu:

 a. Pengetahuan matematika,

 b. Pengetahuan logika,

 c. Pengetahuan fisika, dan

 d. Pengetahuan ilahiah/metafisika. 

Pengetahuan adalah pengetahuan nubuwwah yang disampaikan oleh para nabi, sedangkan pengetahuan adab/sastra dan pengetahuan filsafat merupakan hasil upaya jiwa manusia. Bagi mereka, pengetahuan yang paling mulya adalah pengetahuan syari’at atau nubuwwah yakni pengetahuan yang diperoleh para nabi melalui wahyu, sedangkan yang paling mulya sesudahnya adalah pengetahuan filsafat yakni pengetahuan yang diperoleh tidak melalui wahy, tetapi melalui pemikiran akal yang mendalam.

 2.3 Filsafat Ikhwan Ash-Shofa Filsafat

 menurut anggota ikhwan Ash-shafa, memiliki tiga taraf, yaitu:

 1. Taraf permulaan, yakni mencintai pengetahuan, 

2. Taraf pertengahan, yakni mengetahui sejauh mana hakikat manusia dari segala yang ada, dan

 3. Taraf akhir, yakni berbicara dan beramal dengan sesuatu yang sesuai dengan pengetahuan. Menurut mereka filsuf atau orang bijak adalah orang yang perbuatan, aktivitas dan akhlak nya kokoh, pengetahuannya hakiki, tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan bahaya dan tidak meletakan sesuatu pada tempatnya. 

 1. Al-Tawfiq dan Al-Talfiq Pemikiran al-Taufiq Ikhwan al-Shofa terlihat pada tujuan pokok bidang keagamaan yang hendak mereka capai, yakni merekonsiliasikan atau menyeleraskan antara agama dan filsafat dan juga antara agama-agama yang ada. Usaha rekonsiliasi antara agama dan filsafat sebenarnya telah dilakukan oleh al-Farabi dan Ibnu Sina. Akan tetapi bedanya kedua filosof muslim ini hanya mengupas keselarasan kebenaran filsafat dan agama, sebagaimana yang termuat dalam Al-Qur’an. Sementara itu Ikhwan Al-Shofa melangkah lebih jauh, mereka melepaskan sekat-sekat perbedaan agama. Karenanya rekonsiliasi yang mereka maksud tidak hanya antara filsafat dengan agama islam, namun juga antara filsafat dengan seluruh agama, ajaran dan seluruh keyakinan yang ada. Kesannya Ikhwan Al-Shafa menempatkan filsafat di atas agama. Akan tetapi, sebenarnya bukan demikian, mereka hanya menempatkan filsafat menjadi landasan agama yang dipadukan dengan ilmu. 

 2. Ketuhanan Dalam pembahasan masalah ketuhanan, Ikhwan Al-Shafa melandasi pemikirannya pada angka-angka atau bilangan. Menurut mereka ilmu bilangan adalah “lidah” yang mempercakapkan tauhid, al-tanxih dan meniadakan sifatdan tasybih serta dapat menolak atas orang yang mengingkari keesaan Allah. Selanjutnya mereka katakan, angka satu sebelum angka dua, dan dalam angka dua terkandung pengertian kesatuan. Dengan istilah lain angka satu adalah angka pertama dan angka itu lebih dahulu dari angka dua daan lainnya. Oleh karena itu terbuktilah bahwa Yang Maha Esa (Allah) lebih dahulu dari yang lainnya seperti dahulunya angka satu dari angka lain. Sebagaimana filosof muslim yang lainnya, Ikhwan Al-Shafa juga melakukan al-tanzih dan meniadakan sifat serta al-tasybih pada Allah SWT, Ia bersih dari bentuk dan berupa. Ia adalah Zat yang Esa, yang tidak mampu makhluk-Nya untuk mengetahui hakikat-Nya. Ia pencipta segala yang ada dengan cara al-faidh (emanasi) dan memberi bentuk. Sebagaiamana mu’tazilah Ikhwan Al-Shafa juga juga menolak sifat dan antrofomorfis Allah, sebagaimana yang satu tidaklah tersusun. Menurut mereka meletakan sifat pada Allah hannya sekedar metaforis, guna memudahkan pemahaman bagi masyarakat awam.Sementara itu Allah tidak dapat diserupakan dan disetarakan dengan makhluk-Nya.

 3. Emanasi (Al-Fadh) Filsafat emanasi Ikhwan Aal-Shafa terpengaruh oleh Pythagoras dan Plotinus. Menurut mereka Allah adalah pencipta dan mutlak Esa. Dengan kemauan sendiri Allah menciptakan akal pertama atau akal aktif secara emanasi. Kemudian Allah menciptakan jiwa dengan perantara akal. Selanjutnya Allah menciptakan materi pertama. Dengan demikian, kalau Allah kadim, lengkap, dan sempurna maka akal pertama ini juga demikian halnya. Proses penciptaan secara emanasi diatas, menurut Ikhwan Al-Shafa terbagi menjadi dua: 

(a) penciptaan sekaligus, daf’atan wahidah,

 (b) penciptaan secara gradual, tadrij. Penciptaan sekaligus apa yang mereka sebut alam rohaniyakni akal aktif, jiwa universal, materi pertama dan alam aktif. Tentang alam semesta menurut Ikhwan Al-Shafa, bukan qadim tapi baharu, karena alam semesta ini, menutrut mereka diciptakan Allah dengan cara emanasi secara gradual mempunyai awal dan akan berakhir pada masa tertentu. Salah satu pemikiran Ikhwan Al-Shafa yang paling mengagumkan adalah pada rentetan delapan emanasi, ia telah mendahului bahkan melebihi Charles Darwin tentang rangkaian kejadian di alam secara evolusi. 

 4. Matematika Dalam pembahasan matematika Ikhwan Al-Shafa dipengaruhi oleh pythtagoras yang mengutamakan pembahasannya tentang angka atau bilangan. Bagi meraka angka-angka itu memiliki arti spekulatif yang dapat dijadikan dalil wujud sesuatu. Oleh sebab itu ilmu hitung merupakan ilmu yang mulia dibanding ilmu empirik karena tergolonh ilmu ketuhanan. Angka satu merupakan dasar segala wujud ini dan merupakan permulaan yang absolut. Huruf hijaiyah yang 28 merupakan perkalian antara empat dan tujuh. Angka tujuh mengandung nilai kesucian, sedangkan angka empat menempati posisi penting dalam segala hal yang tercermin pada ciptaan Allah terhadap segala sesuatu di alam ini, seperti empat penjuru angin, empat musim dan lainnya.

 5. Jiwa Manusia Jiwa manusia bersumber dari jiwa uninversal, dalam perkembangannya jiwa manusia banyak dipengaruhi materi yang mengitarinya. Agar jiwa tidak kecewa dalam perkembangannya, maka jiwa dibantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa untuk berkembang. Pengetahuan diperoleh melalui proses berfikir. Anak-anak pada mulanya seperti kertas putih yang bersih belum ada coretan. Lembaran putih tersebut akan tertulis dengan adanya tanggapan pancaindra yang menyalurkannya ke otak bagian depan yang memiliki daya imajinasi. Dari sini meningkat ke daya berfikir yang terdapat pada otak bagian tengah. Pada tingkat ini manusia dapat membedakan antara benar dan salah, antara baik dan buruk. Setelah itu disalurkan ke daya ingatan yang terdapat pada otak bagian belakang. Pada tingkat ini seseorang telah sanggup menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh daya berpikir. Tingkatan terkahir adalah daya berbicara yaitu kemampuan mengungkapkan pikiran dan ingatan itu melalui tutur kata yang bermakna kepada pendengar atau menuangkannya lewat bahasa tulis kepada pembaca. Dalam tubuh manusia, jiwa memiliki tiga fakultas: 

a. Jiwa Tumbuhan Jiwa ini dimiliki oleh semua makhluk hidup: tumbuhan, hewan dan manusia. Jiwa ini terbagi menjadi tiga daya: daya makan, tumbuh dan reproduksi. 

b. Jiwa Hewan Jiwa ini hanya dimiliki oleh hewan dan manusia. Ia terbagi dalam dua daya: penggerak dan sensasi. 

c. Jiwa Manusia Jiwa ini hanya dimiliki manusia. Jiwa yang menyebabkan manusia berpikir dan berbicara. Ketiga fakultas jiwa bersasma dengan daya-dayanya bekerja sama dan menyatu dalam diri manusia. Disinilah letak kelebihan manusia dari makhluk ciptaan Allah yang lain. 

 PENUTUP

 Kesimpulan 

 Ikhwan Al-Shafa merupakan organisasi islam yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan Al Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan Al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esoteris.

 DAFTAR PUSTAKA 

Zar, Sirajuddin. 2014. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta. RajaGrafindo Persada Al-Bah. Muhammad. 1967. al-Janib al-Ilahi min al-Tafkir al-Islamiy. Kaiaro.Dar al-Kitab al-Araby.