EPISTEMOLOGI
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Bekang Masalah
Kebijaksanaan adalah semacam pengetahuan. Filsafat pada umumnya menggeluti
bagaimana kita tahu benda-benda dan apa yang dapat kita ketahui. Pengetahuan
filosofis bukanlah pengetahuan ilmiah. Faktanya, banyak filosof modern
mengklaim bahwa filsafat merupakan suatru keterampilan, suatu cara berfikir
mengenai dunia. Filsafat bukanlah apa yang anda ketahui, tetapi bagaimana anda
berfikir. Dalam kajian filsafat tentang pengetahuan, terdapat salah satu
persoalan penting yaitu tentang epistemologi.
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme yang
memiliki arti pengetahuan atau knowledge dan logos yang berarti teori.
Istilah-istilah lain yang setara dengan epistemologi adalah Kriteriologi yaitu
cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atau tidaknya pengetahuan. Objek
material epistemologii adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat
pengetahuan
Epistemologi ialah pengetahuan tentang suatu upaya untuk
menempatkan sesuatu di dalam kedudukan setepatnya atau upaya-upaya intelektual
memutuskan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar serta mendudukkan
pengetahuan di dalam tempat yang benar
Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya
dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus
diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh
pengetahuan dan cara menyampaikannya seperti apa? Semua itu adalah
epistemologinya pendidikan.
Epistomologi filsafat pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang
mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh filsafat pendidikan Islam dengan
cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam semesta
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
2.
Bagaimana
Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
3.
Bagaimana
Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam?
C. Tujuan
1.
Untuk
memahami pengertian Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.
2.
Untuk
memahami Ruang lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam.
3.
Untuk
memahami Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Epistemologi
Filsafat Pendidikan Islam
Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani;
episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedang logos berarti teori,
uraian atau juga berarti pengetahuan. Jadi, epistemologi adalah pengetahuan
tentang pengetahuan
Epistemologi merupakan tahapan berikutnya setelah pembahasan
ontologi dalam filsafat. “Istilah epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F.
Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yaitu
epistemologi dan ontologi (metafisika umum). Kalau dalam metafisika
pertanyaannya adalah apa yang ada itu? Maka pertanyaan dasar dalam epistemologi
adalah apa yang dapat saya ketahui?”
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos.
Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran,
kata, atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori
pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam
bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge. Dengan kata lain, epistemologi
adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan
ukuran kebenarannya. Isu-isu yang akan muncul berkaitan dengan masalah
epistemologi adalah bagaimana pengetahuan itu bisa diperoleh? Jika keberadaan
itu mempunyai gradasi (tingkatan), mulai dari yang metafisik hingga fisik maka
dengan menggunakan apakah kita bisa mengetahuinya? Apakah dengan menggunakan
indera sebagaimana kaum empiris, akal sebagaimana kaum rasionalis atau bahkan
dengan menggunakan intuisi sebagaimana urafa’ (para sufi)? Oleh sebab itu yang
perlu dibahas berkaitan dengan masalah ini adalah tentang teori pengetahuan dan
metode ilmiah serta tema-tema yang berkaitan dengan masalah epistemologi.
Berbicara tentang asal-usul pengetahuan maka ilmu pengetahuan ada
yang berasal dari manusia dan dari luar manusia. Pengetahuan yang berasal dari
manusia meliputi pengetahuan indera, ilmu (akal) dan filsafat. Sedangkan
pengetahuan yang berasal dari luar manusia (berasal dari Tuhan) adalah wahyu.
Pembahasan epistemologi meliputi sumber-sumber atau teori pengetahuan,
kebenaran pengetahuan, batasan dan kemungkinan pengetahuan, serta klasifikasi
ilmu pengetahuan
Hal ini berkaitan dengan apa manfaat dari ilmu itu sendiri. Firman
Allah dalam surah Al-Mujadalah: ayat 11 sebagai berikut :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا
يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. AL-Mujadalah:11).
Maka dari dapat di simpulkan bahwa Epistomologi filsafat pendidikan
Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang prosedur, proses memperoleh
filsafat pendidikan Islam dengan cara mengkaji pada wahyu dan fenomena alam
semesta
B.
Ruang Lingkup Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam
Epistemologi berbicara tentang:
1.
Sumber-sumber
Pengetahuan
Salah
satu pokok pembahasan epistemologi adalah mengenai sumber-sumber pengetahuan.
Dengan fakultas apa manusia mencapai pengetahuan? Bagaimanakah nilai
pengetahuan yang diperoleh manusia? Sampai batasan mana manusia memeroleh
pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan ini terkait erat dengan sumbersumber
pengetahuan. Apa saja sumber-sumber pengetahuan?
Murtadha
Muththahari mengatakan bahwa sumber pengetahuan tidak hanya rasio dan hati,
melainkan alam dan sejarah. Sedangkan M. Taqi Mishbah Yazdi lebih menekankan
fakultas indriawi dan akal sebagai sumber pengetahuan. Adapun fakultas hati,
dalam mencapai pengetahuan, merupakan ranah ‘irfan bukan filsafat. Agaknya
karena alasan inilah bahwa fakultas hati (qalb, fu’ad) merupakan pembahasan
‘irfan bukan filsafat, kita bisa memahami pandangan Yazdi yang tidak begitu
menekankan daya hati dalam epistemologi yang merupakan cabang filsafat. Ada
juga yang menganggap bahwa sumber pengetahuan yang hakiki (primer) adalah wahyu
sedangkan daya-daya lain lebih sebagai sumber sekunder.
2.
Kebenaran
Pengetahuan
Sebelum
membahas tentang teori kebenaran terlebih dahulu penting kiranya untuk
mendefinisikan apa arti kebenaran itu sendiri. Kebenaran menjadi isu sentral
dalam ilmu pengetahuan karena tujuan dari ilmu pengetahuan adalah untuk mencari
kebenaran. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Purwadaminta
ditemukan arti kebenaran, yakni keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok
dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya).
Menurut
William James yang dikutip oleh Titus dkk (1984: 344), kebenaran (truth) adalah
yang menjadikan berhasil cara kita berpikir dan kebenaran adalah yang
menjadikan kita berhasil cara kita bertindak. Sedangkan menurut Louis Kattsoff
‘kebenaran’ menunjukkan bahwa makna sebuah ‘pernyataan’ artinya, proposisinya
sungguh-sungguh merupakan halnya. Bila proposisinya bukan merupakan halnya,
maka kita mengatakan bahwa proposisi itu “sesat”.
Dalam
epistemologi terdapat 4 (empat) jenis kebenaran, yakni (1) kebenaran religius,
(2) kebenaran filosopis, (3) kebenaran estetis, dan (4) kebenaran ilmiah.
Adapun
masing-masing kebenaran tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.
Kebenaran
religius adalah kebenaran yang memenuhi atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah
agama atau keyakinan tertentu disebut juga kebenaran mutlak yang tidak dapat
dibantah lagi. Bentuk pemahamannya adalah dogmatis. Hal yang dimaksud agama adalah
ketentuan-ketentuan atau ajaran yang diturunkan melalui wahyu, bukan hasil
pemikiran atau perenungan manusia.
b.
Kebenaran
filosofis adalah kebenaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi para filsuf
yang disebut hakikat (the nature), meskipun bersifat subyek dan relative namun
mendalam, karena melalui penghayatan eksistensial,
bukan hanya
pengalaman dan pemikiran intelektual semata. Kebenaran filosofis ini berguna
untuk menyadarkan kita pada relatifnya pengetahuan yang kita miliki karena
pengetahuan itu terus berubah atau berkembang.
c.
Kebenaran
estetis adalah kebenaran yang berdasarkan penilaian indah dan buruk, serta cita
rasa estetis. Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas
yang menimbulkan rasa senang, tenang dan nyaman. Misalnya : bentuk dua dimensi
yang seimbang adalah dengan skala 2 x 3. Hukum estetika ini rupanya digunakan
untuk ukuran bendera sedunia.
d.
Kebenaran
ilmiah adalah terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanya
teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti, kebenaran rasional yang ditunjang
hasil lapangan yang disebut bukti empiris. Kebenaran teoritis adalah kebenaran
yang berdasarkan rasio atau rasional berdasarkan teori-teori yang menunjangnya.
Pengertian bukti disini adalah bukti empiris, yaitu hasil pengukuran obyektif
dilapangan. Sifat obyektif berlaku umum, dan dapat diulang melelui
eksperimentasi.
3.
Batasan
Pengetahuan
Berbicara
tentang masalah ontologi memang sangat luas sekali cakupannya. Ia tidak hanya
berbicara soal keberadaan yang sifatnya materi tetapi juga immateri. Kalau
wujud yang materi bisa diketahui dengan menggunakan pendekatan empiris maka wujud
immateri hanya kita yakini keberadaannya begitu saja. Paling kita percaya
karena wujud yang immateri itu seperti keberadaan Tuhan, surga, neraka dan
lainnya diterangkan dalam kitab suci (wahyu) bagi kalangan yang beragama. Bagi
para penganut paham ateisme tentu saja mereka tidak memercayai hal-hal yang
bersifat immateri tersebut.
Lantas
apakah batas yang merupakan ruang lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu
berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah
yang menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari
pengetahuan-pengetahuan yang lain? Jawaban dari semua pertanyaan itu sangat
sederhana. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di
batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka?
Jawabnya adalah tidak sebab surga dan neraka berada di luar jangkauan
pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya
manusia? Jawabnya juga adalah tidak sebab kejadian itu berada di luar jangkauan
pengalaman kita.
Baik
hal yang terjadi sebelum hidup maupun yang terjadi setelah kematian kita, semua
itu berada di luar penjelajahan ilmu. Dengan demikian yang dimaksud dengan ilmu
di sini adalah pengetahuan yang hanya bisa dijangkau oleh akal manusia dan
bahkan yang bisa diuji kebenarannya secara empiris. Sebuah ilmu harus memenuhi
standar metodologis dan bisa diuji dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
Jika
suatu ilmu itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia bagaimana kita bisa
menguji kebenarannya dengan standar
metodologis dan metode-metode ilmiah. Pembatasan ruang lingkup ilmu yang
seperti ini nampaknya sangat sempit sekali. Memang hal ini tidak bisa
dilepaskan dari tradisi keilmuan yang berkembang di Barat. Ilmu yang dalam
bahasa Barat disebut dengan science merupakan suatu pengetahuan yang tidak
diragukan lagi kebenarannya karena ia memenuhi standarstandar ilmiah. Ia bisa
dibuktikan secara empiris dan bisa di eksperimentasi. Sehingga suatu ilmu yang
tidak memenuhi kualifikasi itu bukanlah merupakan ilmu. Oleh sebab itu sesuatu
hal yang sifatnya immateri bukan termasuk objek kajian ilmu dan bahkan ia
dianggap tidak ada. Seperti itulah asumsi para saintis tentang ilmu terutama
yang berkembang di dunia Barat.
Dalam
proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena
ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam
kurikulum pendidikan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh
anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah
lakunya.
Metode
berasal dari bahasa Yunani methodas, berarti cara atau jalan
Dari
istilah tersebut yang paling popular dan akrab dalam dunia pendidikan Islam
adalah tarikat, yang antara lain berarti jalan yang harus ditempuh
Metode
pendidikan sebagaimana lazimnya komponen ilmu pendidikan yang lain mengalami
perkembangan mengikuti kemajuan zaman. Namun demikian pengembangan metode harus
berbarengan dengan bagian kain dalam pendidikan, misalnya: tujuan pendidikan
yang akan dicapai, kondisi anak didik, kemampuan pendidik dan materi yang akan
diajarkan.
Secara
metodologis, pendidikan Islam dituntut mampu mensosialisasikan dan
menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang suci dan transedental baik
terhadap individu peserta didik maupun kepada masyarakat luas. Untuk memenuhi
desakan kebutuhan variasi metodologi pendidikan Islam dapat merujuk pada sumber
ajaran Islam yaitu Alquran dan sunnah sebagai dasar yang asasi dalam ajaran
Islam.
Gaya
bahasa Alquran dan ungkapan yang terdapat dalam ayatayat Alquran
mengindikasikan bahwa Alquran mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan
dengan corak dan ragam yang berbeda sesuai waktu dan tempat.19 Keragaman metode
pendidikan dalam Alquran dimaksudkan untuk memberikan solusi alternatif terbaik
bila ditemukan kendala dalam pendidikan Islam khususnya aspek metodologis.
Menurut
M. Arifin, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan berproses secara
efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar, menuju tujuan pendidikan
1.
Sifat-sifat
dan kepentingan yang berkenaan dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu
pembinaan manusia mukmin yang mengaku sebagai hamba Allah swt.
2.
Berkenaan
dengan metode yang betul-betul berlaku yang disebutkan dalam Alquran atau
disimpulkan dari padanya.
3.
Membicarakan
tentang penggerakan (motivasi) dan disiplin, dalam istilah Alquran disebut
ganjaran (tsawab) dan hukum (iqab)
Metode Qur’ani tersebut mengarahkan pendidikan untuk berorientasi
kepada educational need dari anak didik di mana faktor human nature yang
potensial pada tiap pribadi anak dapat dijadikan sentrum proses pendidikan
sampai kepada batas perkembangannya. Pelaksanaan dan pemilihan metode yang
tepat guna, selain memudahkan bahan pengajaran untuk diterima murid-murid, juga
diharapkan hubungan antara murid dan guru tidak terputus. Hubungan yang
demikian sangat penting untuk membina karakter murid dan kewibawaan guru
sebagai pendidik yang harus dihormati dan dimuliakan.
C. Epistemologi Filsafat
Pendidikan Islam
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia.
Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi
mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu
sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi
pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan
kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai
mereka.
Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud
sains dan teknologi yang maju di suatu negara, karena didukung oleh penguasaan
dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa
fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh
kemajuan epistemologi.
Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam
merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi
sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi
sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Epistemologi
pendidikan Islam bisa berfungsi sebagai pengkritik, pemberi solusi, penemu dan
pengembang. Melalui epistemologi filsafat pendidikan Islam ini, seseorang
pemikir dapat melakukan : Pertama, teori-teori atau konsep-konsep
pendidikan pada umumnya maupun pendidikan yang diklaim sebagi Islam dapat
dikritisi dengan salah satu pendekatan yang dimilikinya. Kedua,
epistemologi tersebut bisa memberikan pemecahan terhadap problemproblem
pendidikan, baik secara teoritis maupun praktis, karena teori yang ditawarkan
dari epistemologi itu untuk dipraktekkan. Ketiga, dengan menggunakan
epistemologi, para pemikir dan penggali khazanah pendidikan Islam dapat
menemukan teori-teori atau konsepkonsep baru tentang pendidikan Islam.
Selanjutnya, yang keempat, dari hasil temuantemuan baru itu kemudian
dikembangkan secara optimal
Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana
proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses
internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber
yang dimilikinya. Epistemologi pendidikan Islam ini perlu dirumuskan secara
konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan
berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Syarat-syarat itu merupakan kunci dalam
memasuki wilayah pendidikan Islam, tanpa menemukan syarat-syarat itu kita
merasa kesulitan mengungkapkan hakekat pendidikan Islam, mengingat syarat
merupakan tahapan yang harus dipenuhi sebelum berusaha memahami dan mengetahui
pendidikan Islam yang sebenarnya.
Epistemologi filsafat pendidikan Islam adalah upaya, cara, atau
langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan yang berdasarkan
alqur’an dan sunah Nabi saw. Pengaruh pendidikan Barat terhadap pendidikan
Islam yaitu hanya maju secara lahiriyah, tapi kering secara rohaniyah. Ukuran
hasil pendidikan hanya dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang diserap
peserta didik, tetapi tidak pada kesadaran diri peserta didik untuk bertindak
sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Sistem pendidikan Islam harus menempatkan alqur’an maupun sunnah
sebagi pemberi petunjuk ke arah mana proses pendidikan digerakkan. Pembaruan
epistemologi filsafat pendidikan Islam seharusnya dikembangkan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir
kreatif, otentik dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang
tetapi dengan cara berfikir. Upaya membangun epistemologi filsafat pendidikan
Islam seharusnya para pakar dan pemegang kebijakan dalam pendidikan Islam
mengadakan pembaruan secara komprehensif terhadap metode atau pendekatan yang
dipakai membangun pendidikan Islam.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia,
dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Epistemologi juga berbicara
tentang: sumber-sumber pengetahuan, Kebenaran Pengetahuan, dan Batasan
Pengetahuan. Epistemologi filsafat pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana
proses membangun paradigma pendidikan Islam yang mengarah pada proses
internalisasi nilai-nilai Islam sehingga mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan sebagai sebuah kebenaran yang hakiki dengan berlandaskan pada sumber
yang dimilikinya. Epistemologi filsafat pendidikan Islam ini perlu dirumuskan
secara konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan
berdasarkan ajaranajaran Islam. Pembaharuan epistemologi filsafat pendidikan
Islam seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan Islam harus mampu melahirkan ilmuwan yang berfikir kreatif, otentik
dan orisinal, tidak dengan cara mengingat atau mengulang tetapi dengan cara
berfikir.
B. Saran
Demikian makalah ini kami buat, apabila dalam penulisan makalah ini
terdapat kesalahan atau kekeliruan atau pun yang lainya, kami mohon maaf. Untuk
itu kami mengharapkan kiritik dan saran guna melengkapi makalah ini, Karena
sifat kesempurnaan hanya milik Allah semata dan kami hanyalah manusia biasa
yang hakikatnya punya salah dan kekurangan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
untuk kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin M A Ilmu Pendidikan Islam
Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdispiliner
[Book]. - Jakarta : Bumi Aksara, 1991.
Bakhtiar Amsal Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan
Kepercayaan Manusia [Book]. - Jakarta : Rajawali Pers, 2014.
Basa'ad Tazkiyah Studi Dasar Filsafat [Book]. -
Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018.
Djollong Andi Fitriani Epistemologi Filsafat Pendidikan
Islam [Journal]. - Parepare : ISTIQRA, 2015. - Vol. III.
Hasan Fuad Beberapa Asas Metodologi Ilmiyah, dalam
Koentjaranigrat (ed), Metode-Metode Penelitian Masyarakat [Book]. -
Jakarta : Gramedia, 1997. - Vol. Hal 16.
Langgulung Hasan Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan
Islam [Book]. - Bandung : Al-Ma'arif, 1980.
Ma'luf Luis Al-Munjid Fiy Al-Lugah Wa A'Lam
[Book]. - Bairut : Dar Al Masyriq, 1986.
Muhaemin and Majid Abdul Pemikiran Pendidikan Islam kajian
Filosofis dan Kerangka Operasionalnya [Book]. - Bandung : Trigend
Karya, 1993. - Vol. hal 232.
Muhmidayeli Filsafat Pendidikan [Book]. -
Bandung : Refika Aditama, 2013. - Vol. Cet.II.
Poerwodarminto W. J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia
[Book]. - Jakarta : Balai Pustaka, 1986. - Vol. hal 173.
Qomar Mujamil Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode
Rasional hingga Metode Kritik [Book]. - Jakarta : Erlangga, 2021.
Rumi Fuad Filsafat Ilmu [Book]. -
Makasar : UMI Toha Press, 2000. - Vol. Hal 33.
Surakhmad Winarno Metodologi Pengajaran Nasional
[Book]. - Bandung : Jemmars, 1996. - Vol. hal 75.
Syaifuddin Filsafat Ilmu: Mengembangkan Kreatifitas dalam
Proses keilmuan [Book]. - Bandung : Cita Pustaka, 2010.




