MAKALAH
DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN
Disusun sebagai salah satu Tugas Mandiri
Mata Kuliah Dasar-dasar
Kependidikan
“PERAN FUNGSI KEPALA SEKOLAH”
DosenPengampu: Patimah M.Ag
Disusunoleh
:
Mohamad Jamaludin (1708101170)
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM SEMESTER 1 KELAS PAI-A
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepemimpinan
merupakan suaatu hal yang sangat penting dalam manajemen berbasis sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala
sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif
dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Perilaku kepala sekolah harus
dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat,
dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai
kelompok. Perilaku instrumental merupakan tugas-tugas yang diorientasikan dan
secara langsung diklarifikasi dalm peranan dan tugas-tugas para guru, sebagai
individu dan sebagai kelompok. Perilaku pemimpin yang posistif dapat mendorong
kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk beerja sama dalam
kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.
B.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana peran dan fungsi kepala sekolah yang sukses
b.
Bagaimana peran dan konsep kepemimpinan kepala sekolah
c.
Bagaimana peran kepemimpian kepala sekolah yang efektif
d.
Bagaimana peran dan fungsi kepala sekolah yang
profesional
C.
Tujuan Masalah
a.
Untuk mengetahui peran dan fungsi kepala sekolah yang
sukses
b.
Untuk mengetahui peran dan konsep kepemimpinan kepala
sekolah
c.
Untuk mengetahuiperan kepemimpian kepala sekolah yang
efektif
d.
Untuk mengetahui peran dan fungsi kepala sekolah yang
profesional
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Peran Fungsi Kepala Sekolah/Madrasah yang Sukses
1.
Pengertian Kepala Sekolah/Madrasah
Kepala sekolah adalah yang terdiri dari dua kata yaitu
“kepala”dan “sekolah”. Kata kepala dapat diartikan “ketua” atau “pemimpin”
dalam suatu oraganisasi atau sebuah lembaga. Sedangkan “sekolah” adalah sebuah
lembaga di mana menjadi tempat atau wadah menerima dan memberi pelajaran.
Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat
didefinisikan sebagai “seorang tenaga fungsional guru yang diberikan tugas
untuk memipin suatu lembaga sekolah di mana diselenggarakan proses belajar
mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberikan
pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.[1]
Esensi kepala sekolah adalah kepemimpinan pengajaran.
Seorang kepala sekolah yang benar-benar
seorang pemimpin, seorang inovator. Oleh kerena itu, kualitas kepemimpinan
kepala sekolah signitifkan sebagai kunci keberhasilan sekolah. Selain itu, pengetahuan tentang teori kepemimpinan
merupakan bantuan yang besar di dalam meningkatkan efektivitas lembaga sekolah.
2.
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah
Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan kepala
sekolah (pemimpin) dalam mempengaruhi para pengikutnya. Menurut Thoha (2000)
gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat
orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Dalam hal ini usaha menselaraskan persepsi di antara orang yang akan
mempengaruhi perilaku dengan yang akan di pengaruhi menjadi amat
pentingkedudukannya.
Gaya kepemimpinan merupakan sutau pola perilaku seorang
pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang di pilih oleh
kepala sekolah (pemimpin) untuk dikerjakan, cara pemimpin bertindak dalam
mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya. Secara teoretis
telah banyak dikenal gaya kepemimpinan, namun gaya mana yang terbaik tidak
mudah untuk dapat dikaji dari tiga pendekatan utama, yaitu :
a.
Pendekatan Sifat
b.
Pendekatan Perilaku
c.
Pendekatan Situasional [2]
3.
Kunci Sukses Kepala Sekolah/Madrasah
Untuk menjadi kepala sekolah (pemimpin) yang profesional
yang dituntut mampu menjawab tantangan zaman, kepemimpinan kepala sekolah tidak
hanya dibatasi oleh kegiatan formal dan rutinitas. Tetapi, kepala sekolah
dituntut untuk bisa menjadi:
a.
Kepala Sekolah Sebagai Inovator
Dalam Kamus Ilmiah Populer Bahasa Indonesia, Inovator
adalah orang-orang yang mendatangkan hal-hal atau ide-ide pokok metode
pembaharuan, perintis gagasan ide baru. Kepala sekolah (pemimpin) sebagai
inovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara
konstruktif, delegatif, kreatif dan objektif, keteladanan, disiplin, berani dan
fleksibel.[3]
Kepala sekolah (pemimpin) sebagai inovator harus mampu
mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Gagasan
baru tersebut misalnya moving class.
Moving class adalah mengubah strategi pembelajaran dari
pola kelas tetap menjadi bidang studi., sehingga setiap bidang studi memiliki
kelas tersendiri, yang dilengkapi dengan alat peraga dan alat-alat yang
lainnya. Moving class ini bisa dipadukan dengan pembelajaran terpadu, sehingga
dalam satu laboratorium bidang studi dapat dijaga oleh beberapa orang guru
(fasilitator), yang bertugas memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam
belajar.[4]
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah mengajarkan ke
lembaga pendidikan untuk lebih mandiri dalam mengelolah semua yang ada di
sistem sekolah. Untuk itu kepala sekolah harus mampu dan memiliki inovasi, ide
gagasan baru dalam kaitannya memajukan dan mengembangkan sekolah. Sebab apa pun bentuk sekolahnya semua
kemajuan dan kemunduran akan ada di keputusan bijak dari seorang kepala sekolah
(pemimpin).
b.
Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti
dorongan atau menggerakkan. Kata motivasi yang sering diartikan dalam bentuk
kata kerja menjadi rangsangan, dorongan yang menyebabkan sesuatu terjadi, baik
yang berasal dari dalam mau pun berasal dari luar diri seseorang atau
lingkungannya. Manusia terdorong bergerak untuk mencapai suatu tujuan hanya
jika mereka merasa hal itu merupakan bagian dari tujuan pribadi atau
organisasinya.[5]
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi
yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam
melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui
pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, berani dan
penyediaan berbagai sumber belajar melalui Pusat Sumber Belajar (PSB).
c.
Kepala Sekolah Sebagai Leader
Menurut kamus Ilmiah Populer edisi lengkap leader adalah
pemimpin, penunjuk jalan dan juga di sebutkan seorang yang ahli. Kepemimpinan
dapat di rumuskan sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan
keinginan pada kelompok untuk orang-orang untuk mencontohnya atau mengikutinya,
atau yag memancarkan suatu pengaruh tertentu, suatu kekuatan atau wibawa, yang
demikian rupa sehingga membuat sekelompok orang-orang mau melakukan apa yang
dia hendaki.[6]
Whajosumijo (2000: 110) mengemukakan bahwa kepala sekolah
(pemimpin) sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup
kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta
pengetahuan administrasi dan pengawasan.
Kepribadian kepala sekolah (pemimpin) sebagai leader akan
tercemin dalam sifat-sifat sebagai berikut, yaitu :
1.
Jujur
2.
Percaya diri
3.
Tanggung jawab
4.
Berjiwa sabar
5.
Emosi yang stabil
6.
Berani mengambil resiko
7.
Disiplin, berani dan setia
8.
Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
9.
Rajin, terampil dan gembira
10. Suci dalam pikiran,
perkataan dan perbuatan
B.
Peran dan Fungsi Konsep Kepemimpinan Kepala
sekolah/Madrasah
Kepemimpinan
merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam sebuah organisasi, baik
buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin.
Berbagai riset juga telah membuktikan bahwa faktor pemimpin memegang peranan
yang sangat penting dalam mengembangkan oranagisai atau sebuah lembaga. Secara
definisi, kepemimpinann memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun
demikian yang pasti ada dari definisi kepemimpinann adalah adanya suatu proses
dalam kepemimpinann untuk memberikan pengaruh secara sosisal kepada orang lain,
sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana yang
diinginkan oleh pemimpin.
Dari berbagai teori
tersebut terlihat bahwa pemimpin harus mampu memberikan pengaruh kepada orang
lain. Proses pelaksanaan kegiatan mempengaruhi yang berbeda-beda, inilah yang
kemudian menghasilkan tingkatan-tingkatan dalam kepemimpinan. Kasali (2007),
dengan mengutip Maxwell mengemukakan ada beberapa tahap kepemimpinan yang
meliputi :
1.
Level satu :
pemimpin karena hal-hal yang bersifat legalitas semisal menjadi pemimpin karena
Surat Keputusan (SK).
2.
Level dua :
pemimpin yang memimpin dengan kecintaannya, pemimpin pada level ini sudah
memimpin orang bukan memimpin pekerjaan.
3.
Level tiga :
pemimpin yang memilki daya terik yang luar biasa, pemimpin pada level ini
orang-orang ingin mengikutinya bukan hanya karena apa yang telah diberikan
pemimpin secara personal, akan tetapi juga karena nilai-nilai dan simbol-simbol
yang melekat pada diri orang tersebut.[7]
Agar seorang kepala
sekolah/Madrasah mampu bergerak dari pemimpin level 1 menuju pemimpin level di
atasnya, sampai dengan pemimpin level 3 dibutuhkan empat unsur, yaitu:
a.
Visi (vision)
b.
Keberanian (courageness)
c.
Realita (reality)
d.
Etika (ethis)
Unsur pertama yang harus dimiliki kepela
sekolah/madrasah untuk mampu menjadi pemimpin yang besar adalah memiliki visi.
Untuk dapat memiliki visi yang baik, seorang kepala sekolah/madrasah harus
memiliki pikiran yang terbuka, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut akan
memperkaya perspektif pandangan kepala sekolah/madrasah tersebut terhadap
sesuatu.
Unsur kedua adalah keberanian. Dengan keberanian,
pemimpin akan dengan sukarela mengambil berbagai inisiatif untuk mencari
terobosan baru yang kadang kala penuh resiko. Dengan pancaran keberanian dan
dedikasinya terhadap pekerjaan tersebut kepala sekolah akan mampu memberikan
motivasi kepada pengikutnya atau memberikan teladan dan arah yang jelas.
Unsur ketiga adalah kemampuan untuk bekerja dalam
alam yang realistis. Berkaitan dengan proses, kepala sekolah harus mampu
membuat sitem yang mampu mengalirkan berbagai fakta yang ada kepadanya,
sehingga berbagai keputusan yang dibuat benar-benar menyelesaikan masalah
berkaitan dengan pengembangan, maka pengembangan tersebut bersifat prioritas
dan strategis.
Unsur keempat yang harus dimiliki kepala sekolah
untuk mampu menjadi pemimpin yang sekedar pemimpin legalitas adalah memiliki
kepedulian dan sensitivitas yang tinggi terhadap manusia. Kepala sekolah
bekerja dengan mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur,
menananmkannya dan menghukumnya bagi mereka yang melanggar nilai-nilai
tersebut.
Esensi yang hampir sama gengan menggunakan tinjauan yang
berbeda dikemukakan oleh Agustina (2007) berkaitan dengan kepemimpinan yang
unggul. Ginanjar, membagi lima level kepemimpinan yang saling berututan, yaitu:
1.
Pemimpin yang dicintai
2.
Pemimpin yang dipercaya
3.
Pemimpin yang membimbing
4.
Pemimpin yang berkepribadian
5.
Pemimpin yang abadi
6.
Pemimpin yang jujur
7.
Pemimpin yang adil
8.
Pemimpin yang berani
9.
Pemimpin yang berdedikasi
10. Pemimpin yang
mengayomi
11. Pemimpin yang
bertanggung jawab
C.
Peran dan Fungsi Kepala Sekolah dalam Menyukseskan
Pendidikan
Kepala sekolah
adalah pimpinan tertinggi yang sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan
sekolah. Secara sederhana kepemimpinan kepaala sekolah dapat diartikan sebagai
cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing dan
mengerakkan guru, staf, peserta didik, orang tua peserta didik, dewan pendidik
dan pihak yang terkait, untuk mencapai pendidikan yang baik.
Kepemimpinan kepala
sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong perwujudan visi, misi,
tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan seccaaraa
terencana dan bertahap. Untuk itu, kepala sekolah di tuntut untuk memiliki
kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil
keputusan dan prakasa implementasi pendidikaan yang baik untuk meningkatkan
mutu sekolah.
Kepala sekolah juga
harus mampu mengelola waktu secara efesien, agar dapat dijadikan modal dasar
implementasi pendidikan yang baik. Kepala
sekolah yang mampu memimpin guru, staf administrasi, dan peserta didik
untuk menggunakan waktu secara efesien, dapat menangkis keluhan bahwa alokasi
waktu pelajaran sangat kurang. Sehubungan dengan itu, terdapat tiga
prinsipmanajemen waktu yang perlu diperhatikan dalam implementasi pendidikan
yang baik, yaitu:
a.
Waktu berjalan terus dan tidak pernah kembali, baik
dimanfaatkan atau tidak. Apa bila tidak dimanfaatkan dengan baik maka waktu
akan hilang tanpa arti, dan tidak bergayagunakan secara produktif. Oleh karena
itu, waktu yang tersedia harus
dimanfaatkan secara produktif dan efesien, untuk mencapai tujuan.
b.
Secara keseluruhan, waktu di sekolah hendaknya
dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran dan kegiatan lain yang menunjang
pembelajaran.
c.
Perlu menyusun rencana penggunaan waktu dengan baik, agar
dapat menghindari adanya waktu yang kosong dan hilang tanpa makna, demikian halnya
jangan sampai ada waktu yang diisi dengan kegiatan yang terlalu padaat karena
dapat menimbulkan stres.
Selain itu,
kepala sekolah harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah, dalam kaitannya
dengan perencanaan dan evaluasi pendidikan yang baik, pengembangaan kurikulum,
pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan,
pelayanan peserta didik, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan penciptaan
iklim sekolah.[8]
D.
Peran dan Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah ysang
Efektif
Kepala sekolah
merupakan motor penggerak, penentu arah kebjakan sekolah, yang akan menentukan
bagaimana tujuan-tujaun sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan.
Sehubungan dengan MBS, kepala sekolah di tuntut untuk senantiasa meningkatkan
efektifitas kinerja.
Kinerja
kepemimpinan kepaala sekoalh dalam kaitannya dengan MBS adalah segala upaya
yang dilakukan da hasl yang dapat dicapai oleh kepal sekolah dalam
mengimplementasikan MBS di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara
efektif daan efesien. Sehubungan dengan itu, kepemimpian sekolah yang efektif
dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut:
1.
Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses
pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.
2.
Dapat menyelsaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan
waktu yang telah ditetapkan.
3.
Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat
4.
Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai
dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.
5.
Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.[9]
E.
Peran dan Fungsi Kepala Sekolah yang Profesional
Kepala sekolah di
tuntut untuk senantiasa berusaha membina dan mengembangkan hubungan kerja sama
yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif
dan efesien. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk beberpa hal,
diantaranya:
a.
Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat,
dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja.
b.
Saling membantu antara sekolah dan masyarakat kerena
mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.
c.
Saling kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada
di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan
di sekolah.
d.
Saling menjalin hubugan yang baik antar warga sekolah
dengan masayarakat yang diluar, khususnya yang berada di sekitar lingkungan sekolah.
Kepala sekolah
profesional tidak saja dituntut untuk melaksanakan berbagai tugasnya disekolah,
tetapi ia juga harus mampu menjalin
hubungan kerja sama degan masyarakat dalam rangka membina pribadi peseta didik
secara optimal. Kerja sama ini sangat penting karena banyak persoalan yang
tidak dapat diselesaikan oleh secara sepihak, atau sering terjadi kesalah
pahaman, perbedaan persepsi antara pihak sekolahh dengan masyarakat.
Dalam hal ini
kepaala sekolah harus mampu mencari jalan ke luar untuk mencairkan hubungan
sekolah dengan masyarakat yang selama ini terjadi, agar masyarkat khususnya
orang tua peserta didik bisa mengerti, memahami dan maklum dengan ide-ide serta
visi yang sedang berkembang di sekolah.
Di sisnilah
pentingnya kepala sekolah profesional tampil sebagai figur yang harus mampu
memimpin tenaga kerja kependidikan di sekolah, agar bisa bekerja sama dengan
orang tua dan masyarakat pada umumnya. Karena itulah, kepala sekolah di tuntut
untuk mampu menciptakan iklim yang kondusif demi lahirnya partisipasi dan
kolaborasi masyarakat secara profesional, transparan dan demokratis.[10]
F.
Peran dan Upaya Kepala Sekolah dalam meningkatkan Mutu
Pendidikan
Upaya adalah usaha
yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan berupa
pelayanan pada pelanggan, dalam bidang pendidikan, pelayanan pendidikan berarti
ssemua perangkat sekolah dari kepala sekolah, guru, karyawan, dan tenaga
kebersihan serta keamanan harus benar-benar memiliki kultur pelayanan yang
terbaik kepada siswa dan orang tua siswa sehingga mereka puas, tidak hanya
diakhir setelah putra atau putrinya lulus, tapi sejak awal mereka masuk
kehalaman sekolah mereka merasa aman, nyaman, terlindungi, dihargai, dan
terlayani oleh perangkat sekolah.
Usaha kepala
sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan melakukan dari berbagai
bidang, yaitu:
1.
Dalam bidang kurikulum kepala sekolah memberi tugas
tanggung jawab kepada wakil kepala sekolah di bidang kurikulum untuk:
a.
Menyusun dan menjabarkan kalender pendidikan
b.
Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran
c.
Mengatur program pengajaran
d.
Mengatur pelaksanaan program penilaian
e.
Mengatur mutasi siswa
f.
Mengatur jalannya pembelajaran
g.
Mengawasi kegiatan belajar mengajar
h.
Bekerja sama dengan tata usaha bagian pendidikan dan
pengajaran.
2.
Upaya yang dilakukan kepala sekolah dengan meningkatkan
kualitas sumber daya manusia.
3.
Dengan cara maningkatkan prestasi siswa, memberikan
bimbingan belajar kepada anak didik dan mendisiplinkan anak didik.[11]
G.
Peran dan Fungsi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Lembaga
Pendidikan Islam
Kepala sekolah
adalah pemimpin pendidikan, atau lebih konkretnya sebagai pemimpin lembaga
pendidikan, apa pun itu jenisnya atau coraknya. Sebab, mereka membawahi atau
mengendalikan orang banyak sebagai bawahan yang secara struktural mau pun
tradisional mengikuti langkah-langkah pemimpinnya dalam melaksanakan
tugas-tugas kependidikan, mulai dari tahap perencanaan hingga tahap evaluasi.
Kepala sekolah yang
memiliki kewenangan mengendalikan lembaga pendidikan Islam dan menentukan arah
atau strategi pengelolaan serta pengembangan lembaga tersebut.[12]
Dalam pelaksanan pendidikan, pihak lain memang terlibat, tetapi kewanagan
paling besar berada di tangan kepala sekolah mengingat kapasitas mereka sebagai
pemimpin.
Oleh karena itu,
posisi kepala sekolah merupakan penentu masa depan sekolah. Mulyasa mengatakan
“Kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah,
karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh
sekolah menuju tujuannya”.[13]
Sekolah yang efektif, bermutu dan favorit tidak lepas dari peranan kepala
sekolahnya. Pada umumnya, sekolah tersebut dipimpin oleh kepala sekolah yang
efektif. Studi keberhasilan menunjukan bahwa kepala sekolah adalah seseorang
yang menetukan titik pusat dan irama suatu sekolah.
Posisi sebagai
penentu ini menyebabkan perhatian para tenaga kerja pendidikan begitu tercurah
besar pada suksesi kepemimpinan yang berlangsung di suatu lembaga. Hal ini
karena mereka mengharapkan sejumlah perubahan positif konstruktif atau kemajuan
serta pengembangan yang dapat diperankan oleh kepala sekolah, sehingga prospek
lembaga pendidikannya lebih terjamin.
Peranan strategis
bagi kepala sekolah ini, menimbulkan dua kemungkinan bagi sekolah (lembaga
pendidikan). Bila figur kepala sekolah benar-benar profesional, maka dapat
menghasilkan berbagai keuntungan bagi lembaga pendidikan, seperti diantaranya:
a.
Stabilitas
b.
Kemajuan
c.
Pengembangan
d.
Citra baik
e.
Respon positif dari masyarakat
f.
Pengahargaan dari negara
g.
Peningkatan prestasi
h.
Peningkatan mutu
Bila figur
kepala sekolah tidak profesional, mak justru menjadi musibah bagi lembaga
pendidikan yang akan mendatangkan berbagai kerugian. Misalnya:
a.
Kemorosotan kualitas
b.
Penurunan prestasi
c.
Penurunan mutu
d.
Cintra buruk
e.
Respon negatif dari masyarakat
f.
Kondisi labil
g.
Konflik yang tidak sehat
h.
Fenomena yang kontra produktif
Peran kepala
sekolah adalah menjadi agen utama perubahan mendorong dan mengelola agar semua
pihak yang terkait menjadi termotivasi dan berupaya aktif dalam perubahan
tersebut. Kepala sekolah harus memahami dan mengembangkan ketrampilan dalam
melaksanakan perubahan, apabila mereka menginginkan sekolahnya menjadi lebih
baik dan efektif. Sebagai pemimpin pendidikan yang profesional, kepala sekolah
dituntut untuk selalu mengadakan perubahan. Mereka harus memiliki semangat yang
berkesinambungan untuk mencari terobosan-terobosan baru demi menghasilkan
sesuatu perubahan yang bersifat pengembangaan dan penyempurnaan, dari kondisi
yang memperhatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik dari segi fisik
maupun akademik, seperti diantaranya:
a.
Perubahan semangat keilmuan
b.
Atmosfer belajar
c.
Peningkatan strategi pembelajaran
Di samping itu,
kepala sekolah harus berusaha keras menggerakan para bawahannya untuk berubah,
setidaknya mendukung perubahan yang dirintis kepala sekolah secara proaktif,
dinamis, bahkan progresif.[14]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kepemimpinan
kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong perwujudan
visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang
dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk itu, kepala sekolah di tuntut
untuk memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu
mengambil keputusan dan prakasa implementasi pendidikaan yang baik untuk meningkatkan
mutu sekolah.
Kepala sekolah
adalah pemimpin pendidikan, atau lebih konkretnya sebagai pemimpin lembaga
pendidikan, apa pun itu jenisnya atau coraknya. Sebab, mereka membawahi atau
mengendalikan orang banyak sebagai bawahan yang secara struktural mau pun
tradisional mengikuti langkah-langkah pemimpinnya dalam melaksanakan
tugas-tugas kependidikan.
Peran kepala
sekolah adalah menjadi agen utama perubahan mendorong dan mengelola agar semua
pihak yang terkait menjadi termotivasi dan berupaya aktif dalam perubahan
tersebut. Kepala sekolah harus memahami dan mengembangkan ketrampilan dalam
melaksanakan perubahan, apabila mereka menginginkan sekolahnya menjadi lebih
baik dan efektif.



